
Mikel Arteta (Bein Sports)
JawaPos.com–Arsenal masih memimpin klasemen Liga Inggris dan berada di posisi terdepan dalam persaingan perebutan gelar juara musim ini. Namun, di balik konsistensi hasil dan solidnya permainan tim, ada satu persoalan yang belum juga teratasi yaitu minimnya gol yang dicetak dari skema open play.
Masalah itu kembali terlihat saat Arsenal kalah 2-3 dari Manchester United. Sepanjang babak kedua, The Gunners mendominasi bola dan terus menekan.
Sayangnya, dominasi tersebut jarang berujung peluang bersih. Serangan Arsenal kerap mentok sebelum masuk ke area kotak pinalti.
Musim ini, Arsenal memang produktif lewat situasi bola mati. Skema tendangan sudut dan penalti kerap menjadi penyelamat.
Namun jika hanya menghitung gol dari open play, catatan mereka terbilang biasa saja untuk ukuran sebagai tim pemuncak klasemen. Dari 23 pertandingan liga, Arsenal baru mencetak 22 gol dari skema permainan terbuka.
Angka itu tertinggal dari para pesaing utama seperti Manchester City, Liverpool, dan Manchester United. Kondisi ini cukup ironis mengingat Arsenal memiliki banyak opsi di lini depan dan kedalaman skuad yang mumpuni.
Leandro Trossard sejauh ini menjadi penyumbang kontribusi gol terbanyak. Pemain asal Belgia itu kerap muncul di saat momen penting dan kerap tampil efisien.
Namun, untuk tim yang sedang memburu gelar juara, Trossard lebih ideal ditempatkan sebagai opsi pemain pendukung, bukan figur sentral pusat serangan. Sorotan pun kembali mengarah ke Bukayo Saka dan Martin Odegaard. Dua nama ini sebelumnya menjadi motor utama serangan Arsenal.
Dalam dua musim lalu, kombinasi keduanya di sisi kanan dikenal mematikan dan sulit dihentikan lawan. Musim ini ceritanya berbeda. Saka belum kembali ke performa terbaiknya, Odegaard juga mengalami penampilanya mengalami penurunan, meski tetap berperan sebagai pengatur tempo dan kreator utama permainan.
Arsenal masih mengandalkan keduanya, tetapi dampaknya belum sebesar musim-musim sebelumnya. Absennya Kai Havertz di Premier League sangat terasa. Meski bukan tipe penyerang tajam, Havertz memberi variasi lewat pergerakan tanpa bola dan kemampuan menghubungkan lini tengah dengan depan.
Selain itu, peran Ben White juga patut diperhitungkan. Saat White fit, kerja sama di sisi kanan bersama Saka dan Odegaard berjalan lebih hidup, membuka ruang dan menciptakan rotasi yang sulit dibaca lawan.
Secara tim, Arsenal tetap berada di jalur yang benar. Mereka disiplin, terorganisasi, dan jarang kehilangan poin.
Namun sejarah Premier League menunjukkan bahwa juara hampir selalu memiliki satu pemain depan yang mampu menentukan hasil pertandingan di saat-saat krusial. Arsenal mungkin tidak membutuhkan seorang pemain yang mendominasi catatan mencetak gol.
Tetapi jika ingin mengamankan gelar, mereka tetap memerlukan sosok itu di lini depan. Entah itu Saka, Odegaard, atau nama lain, Arsenal menunggu satu pemain untuk benar-benar memimpin serangan untuk memimpin meraih gelar juara musim ini.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
