
Presiden klub St Pauli Oke Gottlich usulkan Jerman boikot Piala Dunia 2026. (@fcstpauli/X)
JawaPos.com - Wacana boikot Piala Dunia 2026 mengemuka setelah pernyataan keras datang dari anggota komite eksekutif Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) Oke Gottlich.
Gottlich menilai sudah saatnya federasi sepak bola dunia mempertimbangkan boikot sebagai bentuk sikap moral atas kebijakan politik Amerika Serikat.
Dilansir dari ESPN (23/1), Gottlich yang juga menjabat sebagai presiden klub Bundesliga St Pauli menyatakan bahwa waktunya telah tiba untuk membahas secara serius kemungkinan boikot Piala Dunia yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026.
Menurut Gottlich, kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menimbulkan keresahan di Eropa. Salah satu pemicunya ialah langkah Trump yang mengajukan upaya pengambilalihan Greenland, wilayah semiotonom milik Denmark yang juga merupakan anggota NATO.
Selain itu, Trump disebut mengancam akan memberlakukan tarif terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana tersebut.
Situasi itu dinilai berpotensi merusak hubungan transatlantik dan bahkan mengancam stabilitas aliansi NATO. Gottlich membandingkan kondisi saat ini dengan alasan boikot Olimpiade pada era 1980-an.
“Apa yang menjadi dasar pembenaran boikot Olimpiade pada era 1980-an? Menurut perhitungan saya, ancaman yang ada saat ini jauh lebih besar dibandingkan saat itu. Kita perlu membahas hal ini,” ujar Gottlich dikutip dari ESPN.
Selain persoalan geopolitik, kekhawatiran juga muncul dari sisi penyelenggaraan. Harga tiket yang tinggi serta kebijakan larangan perjalanan dari pemerintahan Trump membuat suporter dari sejumlah negara peserta terancam tidak dapat menghadiri pertandingan langsung di stadion.
Meskipun demikian, seruan boikot ini diperkirakan akan menemui hambatan internal. Presiden DFB Bernd Neuendorf serta Presiden FIFA Gianni Infantino disebut tidak sejalan dengan gagasan itu.
Menteri Olahraga Prancis Marina Ferrari bahkan menyatakan negaranya saat ini belum mempertimbangkan boikot, meski tetap membuka kemungkinan di masa depan.
Federasi Sepak Bola Jerman sendiri sebelumnya pernah bersikap kritis terhadap Piala Dunia 2022 di Qatar.
Namun, pengalaman itu meninggalkan dampak besar, termasuk performa buruk tim nasional Jerman dan keinginan sang pelatih Julian Nagelsmann untuk menghindari gangguan politik dalam sepak bola.
Baca Juga: Prediksi Villarreal vs Real Madrid: Pape Alassane Gueye dan Brahim Diaz Bawa Rivalitas Final Rabat
Menanggapi hal itu, Gottlich menegaskan bahwa sepak bola tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari nilai kemanusiaan. Gottlich menilai kehidupan pemain profesional tidak dapat ditempatkan lebih tinggi dibanding keselamatan dan kehidupan banyak orang yang terdampak konflik dan ancaman global.
“Nyawa seorang pemain profesional tidak lebih berharga dibandingkan nyawa tak terhitung banyaknya orang di berbagai wilayah yang secara langsung maupun tidak langsung diserang atau diancam oleh tuan rumah Piala Dunia,” kata Gottlich.

5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
11 Tempat Berburu Sarapan Bubur Ayam Paling Enak di Bandung, Layak Masuk Daftar Wisata Kuliner!
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Kuliner Nasi Goreng Paling Enak di Bandung, Tiap Hari Pelanggan Rela Antre Demi Menikmati Kelezatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
