
Kylian Mbappe (Instagram @k.mbappe)
JawaPos.com - Kylian Mbappe kembali menjadi sorotan usai majalah L'Equipe merilis edisi khusus tentang karier dan kehidupannya.
Selain wawancara eksklusif bersama sang bintang, publikasi itu juga menampilkan suara dari ibunya sekaligus agennya, Fayza Lamari, yang jarang berbicara panjang lebar mengenai perjalanan putranya dari Bondy hingga akhirnya berseragam Real Madrid.
Melansir AS, lamari mengenang momen ketika Mbappe meninggalkan Paris Saint-Germain pada musim panas 2024.
Banyak yang menilai saat itu PSG semakin dekat dengan ambisi besar mereka menjuarai Liga Champions. Namun, Mbappe memilih jalannya sendiri.
"Mereka bilang PSG hampir juara, tapi Kylian menjawab dengan wajah polos: 'Tak masalah, aku mulai lagi dari nol.' Saat itu saya kembali melihat anak saya yang dulu, yang selalu bermimpi besar di kamarnya," tutur Lamari.
Ia menambahkan, "Ketika sorakan dan cemoohan datang, Anda sadar bahwa anak Anda bukan lagi sepenuhnya milik keluarga, melainkan milik semua orang. Di level itu, tak ada kehidupan di luar sepak bola."
Zidane dan Cristiano Ronaldo sebagai Idola
Kecintaan Mbappe pada Real Madrid bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Lamari menceritakan bahwa sejak kecil, putranya sudah terinspirasi oleh sosok Zinedine Zidane. Kemudian hadir Cristiano Ronaldo, yang menjadi idola terbesarnya.
"Sejak usia empat tahun, dia sudah bicara tentang Zidane. Lalu datang Cristiano. Dia akan menonton Portugal hanya karena ada Ronaldo. Pernah suatu hari dia berkata: 'Saya orang Portugal'." kenang Lamari sambil tersenyum.
Momen bertemu Zidane di usia 14 tahun bahkan jadi kenangan tak terlupakan. "Dia bilang: 'Bu, dia sentuh jaketku. Aku nggak akan mencucinya lagi.' Itu betapa besar pengaruh Zidane untuknya," tambahnya.
Popularitas dan Sisi Arogan Mbappe
Meski kini dianggap ikon sepak bola dunia, Lamari justru tidak nyaman dengan label tersebut. “Saya tidak suka kata ‘ikon’. Itu menakutkan saya. Orang-orang hanya melihat ketenaran, tapi jarang bicara tentang ekspektasi dan konsekuensinya. Saya lebih bangga dengan dirinya sebagai manusia daripada sebagai pemain,” ungkapnya.
Sebagai seorang ibu, ia juga melihat sisi manusiawi putranya. “Tentu saja ada kalanya dia arogan. Tapi itu bagian dari prosesnya. Dia berhak merasa muak sesekali. Dia manusia. Tugas saya hanya mengingatkan agar tetap berpijak di bumi,” jelas Lamari.
Perjalanan Mbappe tidak selalu mulus. Dari tekanan saat laga-laga besar bersama AS Monaco hingga rumor media di tahun-tahun berikutnya, Lamari merasakan sendiri kerasnya dunia sepak bola.
"Orang tua adalah korban sistem. Ketenaran tidak mengisolasi, penilaianlah yang mengisolasi," katanya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
