Ilustrasi: Sepak Bola (Pixabay/Pexels)
JawaPos.com - Peraturan sepak bola yang dikenal saat ini merupakan hasil dari proses panjang yang dimulai lebih dari satu abad lalu. Pada pertengahan abad ke-19, berbagai bentuk permainan bola kaki berkembang di wilayah Inggris tanpa aturan yang seragam.
Dilansir melalui laman IFAB, kondisi ini mendorong sejumlah tokoh olahraga pada tahun 1863 untuk membentuk The Football Association di London dan menyusun peraturan tertulis pertama. Peraturan ini menjadi fondasi awal dari apa yang kemudian dikenal sebagai Laws of the Game.
Seiring penyebaran sepak bola ke berbagai negara, kebutuhan akan pengawasan peraturan secara internasional mulai muncul. Pada tahun 1886, empat asosiasi sepak bola Britania Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia membentuk The International Football Association Board (IFAB).
Lembaga ini bertugas untuk menjaga konsistensi peraturan permainan di tingkat global. Kehadiran FIFA sebagai anggota resmi IFAB pada tahun 1913 memperluas cakupan lembaga ini hingga mencakup seluruh asosiasi sepak bola di bawah naungan FIFA.
Dalam perjalanannya, IFAB telah melakukan berbagai pembaruan untuk menyesuaikan peraturan dengan dinamika permainan di lapangan.
Salah satu perubahan besar terjadi pada tahun 1970 dengan diperkenalkannya sistem kartu kuning dan merah sebagai sarana komunikasi universal antara wasit dan pemain.
Di era sebelumnya, pelanggaran hanya diperingatkan secara verbal. Kehadiran kartu membawa dampak besar pada cara wasit mengatur pertandingan.
Konsep offside, yang sejak awal sudah diterapkan, mengalami beberapa kali perubahan untuk mengakomodasi gaya bermain yang semakin menyerang.
Penyesuaian terbaru menekankan bahwa seorang pemain tidak berada dalam posisi offside jika sejajar dengan bek terakhir.
Selain itu, aturan pergantian pemain juga mengalami perkembangan signifikan. Jika dulu pergantian pemain tidak diizinkan sama sekali, kini setiap tim dapat melakukan hingga lima kali pergantian dalam satu pertandingan, sebagai hasil evaluasi terhadap beban fisik pemain, terutama sejak pandemi Covid-19.
IFAB juga menjadi penggerak utama dalam penerapan teknologi dalam sepak bola. Pada awal dekade 2010-an, teknologi garis gawang (Goal-Line Technology) mulai digunakan untuk memastikan keabsahan gol.
Disusul kemudian oleh sistem bantuan video wasit atau Video Assistant Referee (VAR), yang diintegrasikan ke dalam peraturan resmi permainan untuk membantu pengambilan keputusan penting di lapangan.
Hingga saat ini, IFAB tetap mempertahankan prinsip utamanya bahwa sepak bola harus sederhana, adil, dan dapat dimainkan di semua tingkat dari pertandingan amatir hingga profesional.
Proses evolusi peraturan yang dilakukan secara bertahap mencerminkan upaya berkelanjutan untuk menjaga integritas permainan sekaligus menjawab tantangan zaman yang terus berubah.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
