Sabtu, 16 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Pendidikan

Walau Dibayar 3 Bulan Sekali, Gerardus Tetap Setia Didik Anak Suku Kamoro Papua

| editor : 

Penampilan sederhana Gerardus Tongopea, seorang guru honor yang fotonya viral di medsos, saat akan mengikuti kegiatan pelatihan Kurikulum 13 di Sentra Pendidikan, Jumat (21/7).

Penampilan sederhana Gerardus Tongopea, seorang guru honor yang fotonya viral di medsos, saat akan mengikuti kegiatan pelatihan Kurikulum 13 di Sentra Pendidikan, Jumat (21/7). (SELVIANI/RADAR TIMIKA/JawaPos.com)

Menjadi seorang guru, apalagi berstatuskan honor memang nasibnya tidaklah sebaik  dengan pegawai negeri sipil (PNS). Parahnya lagi melakoni profesi mulia itu di ujung timur Indonesia, Mimika, Papua.

Jangan pernah membayangkan guru di daerah itu memiliki kendaraan bagus, pakaian baru dan lain sebagainya. Namun profesi itu tetap dilakoni. Dialah Gerardus Tongopea, guru honorer yang sempat viral di media sosial.

Viralnya foto Gerardus, karena dia sedang menangis sambil menutupi wajah dengan menggunakan kedua tangannya. Dalam foto yang menghebohkan jagat maya itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Mimika Dominggus Kapiyau duduk di hadapannya terlihat asyik dengan telepon seluler.

seorang guru yang sedang menangis di depan pejabat Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan, yang menjadi viral di Medsos beberapa hari terakhir ini.

seorang guru yang sedang menangis di depan pejabat Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan, yang menjadi viral di Medsos beberapa hari terakhir ini. (Facebook/Radar Timika/JawaPos.com)

Saat ditemui di Sentra Pendidikan di Timika kemarin (21/7), Gerardus tampil persis dengan yang ada di foto. Dia mengenakan kemeja batik merah serta sepatu kets putih yang lusuh, bahkan terlihat sudah rusak.

Hanya celananya yang berbeda. Jika dalam foto dia memakai celana cokelat, kemarin dia mengenakan celana hitam. Sebuah tas ransel yang mulai rusak pun melekat di punggungnya.

Gerardus adalah guru honorer yang mengajar di SD YPPK Mioko. Gajinya hanya Rp 1 juta per bulan. Pembayarannya pun tidak rutin setiap bulan. Kadang Gerardus bersama guru honorer yang senasib dengan dirinya baru dibayar tiga bulan, bahkan bisa sampai enam bulan.

"Pengangkatan dilakukan kepala sekolah. Jadi, tidak ada gaji yayasan. Bergantung pada dana BOS. Kalau lambat, kami bisa digaji sampai enam bulan," jelasnya.

Seperti guru honor lain yang mengabdi di seantero pelosok Mimika, Gerardus yang diberi tanggung jawab sebagai wali kelas IV SD YPPK Mioko merasa senang dengan adanya kebijakan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Mimika yang menyediakan anggaran untuk insentif guru. Gerardus mengaku mulai menerima insentif pada 2015.

Masalah insentif itulah yang membuat khalayak umum terenyuh. Tepatnya, ketika seorang pengguna media sosial menyebarkan fotonya yang sedang menangis. Pada keterangan foto tersebut disebutkan bahwa Gerardus menangis karena meminta insentif segera dibayarkan.

Dia tidak membantah kabar bahwa dirinya menitikkan air mata di hadapan Kabid Kebudayaan Dispendasbud Mimika itu. Namun, dia menyatakan, hal yang sebenarnya terjadi tidak seperti yang orang pikirkan.

Dalam pembicaraannya dengan Dominggus Kapiyau, memang ada bahasan masalah insentif. Tapi, yang membuatnya terharu, Dominggus yang juga pejabat asli suku Kamoro itu memberikan nasihat kepadanya agar tidak patah semangat dalam mendidik anak-anak generasi suku Kamoro. "Jadi, saya cucurkan air mata bukan karena masalah insentif," ungkapnya.

(selviani/c23/ami)

Sponsored Content

loading...
 TOP