Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 25 November 2020 | 04.15 WIB

Kisah Megawati Saat Mengambil Anak dari Gunung Salak

Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri hari ini genap berusia 72 tahun. Beragam ucapan selamat datang dari para kader maupun elite partai di republik ini. - Image

Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri hari ini genap berusia 72 tahun. Beragam ucapan selamat datang dari para kader maupun elite partai di republik ini.

JawaPos.com - Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri meminta agar Mendikbud Nadiem Makarim memberi kesempatan lebih besar kepada anak-anak muda Indonesia untuk berkarya serta meraih prestasi tinggi. Salah satunya, Pembangunan Gelora Bung Karno (GBK) dan Gedung DPR di Senayan oleh anak bangsa sendiri adalah bukti orang Indonesia kapabel dan berkualitas.

"Saya bilang ke Pak Nadiem, tolong kasih kesempatan ke anak muda kita. Saya sering heran, apa-apa saja konsultannya orang asing. Apa kita tak punya orang sendiri ya? Bung Karno bikin GBK itu terbukti sampai sekarang masih terpakai," kata Megawati dalam webinar pembukaan pameran daring Buku Bung Karno, Selasa (24/11).

Mega juga mengisahkan, GBK dan Gedung DPR menggunakan teknologi baru saat itu. Pada waktu dibangun, Presiden RI Pertama Soekarno mengumpulkan 600 ahli. Saat itu, mereka mau mundur karena merasa tidak sanggup.


"Namun, Bung Karno bilang, hei anak muda, saya sejak muda dan akhirnya bisa memproklamasikan kemerdekaan dan membentuk NKRI, kalian baru bikin gedung gitu saja mundur. Terus akhirnya lanjut dan berhasil juga. Jadi yang diperlukan adalah ruang dan kesempatan bagi akademisi kita. Anak-anak kita sangat pintar loh Pak Nadiem," kata Megawati lagi.

Pada kesempatan itu, Mendikbud Nadiem Makarim memang hadir dalam webinar pembukaan Pameran Daring Buku Bung Karno, Selasa (24/11).

Megawati juga menuturkan, dirinya pernah datang dan hadir untuk menyemangati anak-anak Indonesia peserta olimpiade matematika. Dia mengingatkan Nadiem, bahwa di desa-desa, banyak sekali anak pintar dan berpotensi, tapi tak bisa bersekolah. Megawati membuktikan sendiri karena menjadi orang tua asuh bagi anak-anak pintar dari pedesaan.

"Banyak anak Indonesia yang pintar. Di Papua, Maluku, dimana-mana ada. Tapi tak bisa sekolah. Lalu mau diapakan? Makanya waktu itu saya katakan jangan manjakan generasi milenial. Anak-anak itu harus memiliki fighting spirit. Cucu saya sendiri terus saya dorong jadi the best dan number one. Ibu-ibu harus mendorong anaknya," urainya.

Di sela-sela wabinar itu, Mega juga bercerita, suatu waktu sebagai ketua umum partai, dirinya berkunjung ke sebuah desa di kaki Gunung Salak. Lalu pertemuan dilakukan di sebuah gedung sekolah negeri. Dia pun bertemu dengan anak-anak kecil. Ketika Megawati bercerita dan bertanya, ada seorang anak yang selalu menjawab dengan tepat. Berkali-kali demikian.

Hingga Megawati meminta sang anak tak menjawab dan memberi kesempatan buat temannya yang lain. Tapi temannya yang lain tak ada yang bisa menjawab. Hanya dia yang bisa menjawab. Diam-diam saya minta dipanggilkan orang tuanya. Lalu, orang tuanya kaget waktu saya meinta anaknya.

"Maksudnya saya akan asuh. Anak ini sekarang sudah jadi dokter. Adiknya Insinyur IPB. IP-nya 3 ke atas. Sangat cerdas. Saya suruh les Inggris, bisa. Komputer, bisa," urai Megawati.

Mega pun menyarankan agar para orang tua lain di Indonesia, yang punya kemampuan, juga bersedia membantu dengan cara demikian. Namun dia ingatkan, agar sebaiknya turun langsung ke lapangan untuk mencari anak berbakat namun tak memiliki fasilitas.

"Saya minta maaf kepada bapak ibu, saya bukan mengajari. Saya cuma melimpahkan pemikiran saya demi indonesia tercinta ini," pungkasnya.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore