
Presiden AS Donal Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino. (Istimewa)
JawaPos.com - Piala Dunia selalu hadir sebagai panggung terbesar sepak bola dunia. Setiap empat tahun sekali, turnamen ini menjadi momen ketika jutaan orang dari berbagai negara, budaya, bahasa, dan latar belakang berkumpul dalam satu semangat yang sama yaitu menikmati sepak bola.
Namun, sejak sebelum kick-off pertama Piala Dunia 2026 digelar, perhatian publik tidak hanya tertuju pada pertandingan di lapangan. Berbagai isu di luar sepak bola justru ikut menjadi bahan perbincangan yang cukup besar.
Mulai dari kebijakan imigrasi Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah, kekhawatiran mengenai proses visa bagi suporter dan delegasi dari sejumlah negara, hingga seruan boikot yang sempat ramai di media sosial. Situasi tersebut membuat sebagian pihak menilai bahwa Piala Dunia 2026 menjadi salah satu edisi yang paling banyak dibayangi isu politik dibandingkan edisi Piala Dunia beberapa tahun terakhir.
Baca Juga:Prediksi Timnas Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026: Adu Ketajaman Lukaku dan Taremi Penentu Laga
Selain itu, sejumlah penggemar juga menyoroti pengalaman mereka selama turnamen berlangsung. Harga tiket yang dinilai cukup tinggi, biaya perjalanan dan akomodasi yang mahal, serta kesan komersialisasi yang dilakukan penyelenggara dan FIFA semakin kuat menjadi topik yang terus dibicarakan oleh penggemar sepak bola.
Tidak sedikit yang merasa atmosfer Piala Dunia kali ini berbeda dibandingkan edisi-edisi sebelumnya. Di tengah kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil dan berbagai konflik geopolitik yang masih berlangsung di sejumlah kawasan dunia, antusiasme sebagian suporter disebut tidak sebesar seperti yang diharapkan.
Meski demikian, muncul pula pandangan berbeda dari kelompok penggemar lainnya. Mereka menilai kritik terhadap penyelenggaraan turnamen memang sah untuk disampaikan, tetapi tidak serta-merta mengurangi nilai Piala Dunia sebagai ajang olahraga terbesar di dunia.
Perdebatan ini pada akhirnya melahirkan dua sudut pandang yang cukup jelas. Di satu sisi, ada yang menilai FIFA terlalu berorientasi pada ekspansi bisnis dan keuntungan finansial.
Di sisi lain, banyak yang beranggapan bahwa Piala Dunia tetap menjadi peristiwa olahraga yang mampu menyatukan perhatian miliaran orang di seluruh dunia.
Jika melihat sejarah, sebenarnya sepak bola dan politik bukanlah dua hal yang benar-benar terpisah. Berbagai edisi Piala Dunia sebelumnya juga pernah menghadapi situasi serupa.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Prediksi Skor Liechtenstein vs Lithuania di Liga Nations UEFA: Rinktinė Menang di Kandang Lawan
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Jepang vs Uruguay: Ko Itakura Targetkan Kemenangan
Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di Liga Nations UEFA: The Green Army Curi Poin di Fadil Vokrri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022