Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 8 Agustus 2025 | 00.39 WIB

Jelang HUT ke-80 RI, Santri Punya Peran Besar untuk Terus Mengawal Kemerdekaan

Presidium Nasional Halaqoh BEM Pesantren se-Indonesia Ahmad Samsul Munir. (Istimewa) - Image

Presidium Nasional Halaqoh BEM Pesantren se-Indonesia Ahmad Samsul Munir. (Istimewa)

JawaPos.com-Hari Kemerdekaan bangsa Indonesia ke-80 harus menjadi ajang membangun persatuan bansa, refleksi, kritik, sekaligus panggilan suci untuk bangkit dan membela negeri lewat jalan ilmu dan aksi sosial. Indonesia harus harus di bangun dengan semangat kebersamaan dan gotong royong.


“Hari ini kita tidak mengangkat bambu runcing. Kita mengangkat kesadaran, menyatukan kekuatan, dan memperjuangkan keadilan,” ujar Presidium Nasional Halaqoh BEM Pesantren se-Indonesia Ahmad Samsul Munir.

Dalam hal ini, santri tak pernah absen dari perjuangan bangsa Indonesia. Mulai dari resolusi jihad 1945 hingga barisan ulama dan pejuang di medan tempur, pesantren adalah salah satu benteng awal republik ini. Halaqoh BEM Pesantren mengingatkan bahwa kepahlawanan santri bukanlah masa lalu, tapi juga masa kini dan masa depan.

“Santri hari ini adalah pahlawan dalam bentuk baru pahlawan yang menjaga nurani bangsa, melawan kebodohan, dan menolak kebijakan yang merugikan rakyat,” ujar Munir

Dalam semangat membangun bangsa di bulan kemerdekaan ini, Ahmad Samsul Munir, menegaskan bahwa kemerdekaan bukan hanya warisan, melainkan amanah.

“Kemerdekaan hari ini bukan untuk dirayakan dengan pesta, tapi diperjuangkan kembali oleh santri dengan pena, ide, dan keberanian moral. Ini jihad kita hari ini!”

Jihad yang dimaksud hari ini bukan dalam arti sempit, tetapi perjuangan menghadirkan keadilan sosial, melek literasi, pemberdayaan ekonomi, dan partisipasi aktif masayarakat dalam politik kebangsaan.

“Santri hari ini harus berani tampil. Bukan hanya di mimbar masjid, tapi juga di ruang kebijakan publik. Karena masa depan bangsa ini juga milik kami,” ujar munir

Dalam semangat kebangsaan yang membara, Halaqoh BEM Pesantren pun memberikan kritik konstruktif terhadap kebijakan pemerintah.

Pertama, program Koperasi Merah Putih, yang dinilai masih bersifat simbolis dan belum menyentuh akar rumput ekonomi. Ditambah sistem pengawasan yang masih belum ketat, ini di khawatirkan bukan menjadi solusi ekonomi. "Koperasi harus menjadi solusi ekonomi baru, jangan sampai menjadi masalah ekonomi yang baru," ucqp Ahmad Samsul Munir.

Kedua, program makanan bergizi gratis yang meski memiliki semangat luhur, masih bermasalah dalam teknis pelaksanaan. Dari beberapa kejadian yang kita saksikan hari ini menunjukkan beberapa kasus siswa yang masih mengalami keracunan, ini membuktikan bahwa harus ada evaluasi terkait pengawasan bahan dan proses pengolahan makanan sebelum dan sampai kepada para penerima. “Jangan sampai makanan gratis justru menjadi ladang masalah baru,” ungkap munir.

Dalam menyambut hari kemerdekaan ini, dia menyampaikan bahwa BEM pesantren se-indonesia komitmen untuk terus mengabdi pada negeri, menjaga moral bangsa, dan menjadi penjaga akal sehat publik di tengah tantangan zaman.

“Kami tidak sedang melawan siapa-siapa. Kami hanya sedang menjaga Indonesia tetap waras dan bermartabat,” urainya. Dia menambahkan, santri hari ini bukan hanya penjaga kitab kuning, tetapi juga penjaga masa depan negeri. "Dengan semangat kemerdekaan, jihad mereka tak bersenjata, tapi berselimut nilai: keadilan, keberanian, dan cinta tanah air," tekadnya. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore