Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 Agustus 2023 | 23.05 WIB

Sejarah Panjang Keberadaan Fakultas Kedokteran Tertua Di Indonesia

Sekolah Dokter Djawa pada 1851 (Foto : Bintoro Hoepoedio via Pinterest). - Image

Sekolah Dokter Djawa pada 1851 (Foto : Bintoro Hoepoedio via Pinterest).

JawaPos.com - Beberapa waktu lalu dikabarkan pemerintah mencabut moratorium pembukaan Fakultas Kedokteran baru guna menanggulangi permasalahan kurangnya tenaga dokter di Indonesia. Hingga Selasa (1/8) terdapat 12 Perguruan Tinggi yang dilaporkan mendapat lampu hijau untuk membuka Fakultas Kedokteran baru.
 
Dirangkum dari berbagai sumber, keberadaan Fakultas Kedokteran di Indonesia sendiri tidak lepas dari sejarah kolonialisme Belanda. Dilansir dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia, upaya pemberantasan berbagai penyakit menular seperti tipes, kolera, disentri, cacar dan lain-lain yang tersebar Indonesia khususnya pulau Jawa (daerah Banyumas dan Purwokerto) yang mengganas hingga mengakibatkan tingginya korban jiwa pada 1847 menjadi cikal bakal awal mula berdirinya pendidikan kedokteran di Indonesia.
 
Saat itu, wabah penyakit disebut tidak teratasi oleh tenaga medis pemerintahan Hindia Belanda yang jumlahnya terbatas, apalagi pengobatan yang ada saat itu menggunakan ramuan dan cara-cara tradisional. Kemudian lahirlah usul dari Dr. W. Bosch yang saat itu menjabat sebagai Kepala Jawatan Kesehatan untuk mendidik beberapa pribumi menjadi pembantu dokter Belanda.
 
1. Era 1849-1899
 
Pada 2 Januari 1849 lewat Keputusan Gubernemen No. 22, Pemerintah Hindia Belanda menetapkan di rumah sakit militer akan diselenggarakan pendidikan 30 pemuda Djawa dari keluarga baik-baik serta pandai menulis, membaca bahasa Melayu dan Jawa untuk menjadi dokter pribumi dan “vaccinateur” atau mantri cacar dibawah kepemimpinan Dr Pieter Bleeker yang bekerja di Dinas Kesehatan Tentara Belanda. Selesai dari pendidikan tersebut, para pemuda harus bersedia masuk dinas pemerintahan sebagai mantri cacar.
 
Hanya berselang dua tahun, tepatnya pada Januari 1851, berdirilah Sekolah Dokter Djawa di Rumah Sakit Militer Weltevreden, Batavia (sekarang bernama Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto) dengan masa pendidikan selama 2 tahun. Pendidikan tersebut diikuti oleh 12 orang yang semuanya berasal dari Pulau Jawa. Materi pelajaran meliputi cara mengobati cacar dan memberikan pertolongan kepada penderita sakit panas dan sakit perut. Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Melayu.
 
 
Pada 1853 melalui Surat Keputusan Gubernemen tanggal 5 Juni 1853 No. 10, Sekolah Dokter Djawa meluluskan 11 pelajar dan menyandang gelar sebagai "Dokter Djawa" dimana mereka dipekerjakan sebagai mantri cacar, diperbantukan di Rumah Sakit dan membantu dokter militer yang juga merangkap sebagai dokter sipil. Kemudian sejak 1856 Sekolah Dokter Djawa mulai menerima murid yang berasal dari luar Pulau Jawa, yakni 2 orang dari Minangkabau (Sumatera) dan 2 orang lagi dari Minahasa (Sulawesi).
 
Lama pendidikan Sekolah Dokter Djawa ditingkatkan dari yang tadinya selama 2 tahun menjadi 3 tahun dengan jumlah siswa dibatasi 50 orang pada 1864. Tujuan dari perubahan ini adalah meningkatkan kualitas para dokter sehingga mampu bekerja sendiri dibawah pengawasan dokter Belanda dan Kepala Pemerintahan Daerah.
 
Namun pengabdian para dokter lulusan Sekolah Dokter Djawa dimasyarakat ini sempat mendapat penolakan dari beberapa dokter Belanda. Sehingga sejak 1864 pemerintah kolonial mencabut wewenang praktek dokter mereka dan kembali mempekerjakan sebagai mantri cacar. Perubahan besar terjadi pada 1875 sebab lama pendidikan ditingkatkan menjadi 7 tahun (2 tahun masa persiapan, 5 tahun pendidikan medis) termasuk pendidikan bahasa Belanda yang dijadikan sebagai bahasa pengantar, dengan jumlah murid sebanyak 100 orang.
 
Aktifitas pendidikan dan asrama Sekolah Dokter Jawa yang berlangsung setiap hari dinilai mengganggu kenyamanan rumah sakit, karena itulah dewan pengajar memutuskan untuk memindahkannya. Setelah lebih dari 20 tahun, akhirnya berdiri gedung baru yang merupakan sekolah pendidikan kedokteran bernama STOVIA (School tot Opleiding voor Indische Artsen) atas usulan Dr. Hermanus Frederik Roll pada 1899.
 
Pembangunan gedung baru itu tepat disamping rumah sakit militer Weltevreden. Kegiatan pembangunan gedung dikisahkan sempat terhenti karena kendala kurangnya biaya. Alasan itulah yang mebuat Dokter H.F. Rool selaku Direktur Sekolah Dokter Djawa berjuang keras mengumpulkan dana untuk membiayai pembangunan gedung tersebut. Namun akhirnya ia mendapat bantuan dari 3 orang pengusaha Belanda dari perusahaan Deli Maatschappij yaitu, Peter Wilhelm Janssen, Jacob Nienhuys dan Hendrik Cornelis van den Honert. Berkat bantuan mereka lah, pembangunan gedung dan asrama pelajar kedokteran dapat diselesaikan pada September 1901.
 
2. Era 1901-1925
 
Pada September 1901 di Betawi muncul wabah penyakit beri-beri dan kolera yang juga menimpa para pelajar Sekolah Dokter Djawa. Hal tersebut membuat pemindahan pelajar dari rumah sakit militer Weltevreden ke gedung baru STOVIA di Hospitaal Weg (sekarang bernama Jl. Abdul Rahman Saleh, Jakarta Pusat) menjadi tertunda.
 
Tepat 1 Maret 1902 gedung baru tersebut akhirnya mulai resmi digunakan untuk STOVIA yang semula bernama School tot Opleiding voor Indische Artsen lalu berganti nama menjadi School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen. Dengan adanya STOVIA menandai berakhirnya Sekolah Dokter Djawa. Para alumni dari sekolah itu disebut Inlandse Arts.
 
Pelajar STOVIA diharuskan tinggal di dalam asrama yang dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas yang dibutuhkan oleh penghuninya. Gedung baru tersebut menjadi tempat belajar dan tempat tinggal yang menyenangkan, karena lingkungan sekitar gedung sangat asri. Halaman gedung dipenuhi hamparan rumput juga diselingi dengan taman-taman yang indah. Asrama tersebut dipimpin oleh seorang pengawas Indo-Belanda yang disebut dengan suppoost.
 
Selain itu, para pelajar dididik untuk menerapkan sikap disiplin dan tanggung jawab yang ketat selama menempuh pendidikan kedokteran. Jadwal kegiatan sudah ditentukan dari pagi hingga malam hari. Dan bagi mereka yang melanggar ketentuan akan mendapatkan hukuman sesuai dengan kesalahan yang diperbuatnya. Masa pendidikan juga ditambah menjadi 9 tahun yang terbagi menjadi 2 tahun persiapan melalui Europeesche Lagere School (ELS) dan 7 tahun pendidikan kedokteran.
 
 

Kurikulum pendidikan di STOVIA disesuaikan dengan School Voor Officieren van gezondeid di Utrech, sehingga lulusan STOVIA diharapkan sama dengan lulusan sekolah serupa di Eropa. Pelajar STOVIA umumnya memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi lantaran persyaratan untuk bisa menjadi pelajar STOVIA harus melalui proses yang sangat ketat dan selektif.

Pada 1909 STOVIA berhasil meluluskan muridnya. Setelah menyelesaikan pendidikannya, para pelajar tersebut mendapatkan gelar Inlandsch Arts atau dokter Bumiputra. Mereka diangkat menjadi pegawai pemerintah dan ditempatkan di daerah-daerah terpencil untuk mengatasi berbagai macam penyakit menular. Dokter-dokter muda ini dibekali dengan tas kulit yang berisi alat-alat kedokteran dan uang saku untuk perjalanan menuju lokasi tugas. 

Seiring berjalannya waktu, jumlah pelajar STOVIA terus bertambah dan juga perlu penyesuaian dengan perkembangan zaman, maka perlu dibangun gedung baru sebagai tempat pendidikan dan praktek pelajar STOVIA. Rumah sakit Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (sekarang bernama RSUP Cipto Mangunkusumo) pada 1919 yang dipimpin oleh Dr. Hulskoff. Rumah sakit inilah dijadikan sebagai tempat praktek pelajar STOVIA karena sarana dan prasarananya lebih lengkap dan juga modern.
 
Gedung yang saat ini didominasi dengan warna putih tercatat selesai dibangun pada 5 Juli 1920. Dan secara bersamaan seluruh fasilitas dan kegiatan pendidikan STOVIA dipindahkan ke jalan Salemba yang sampai sekarang dikenal dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sedangkan STOVIA lama hanya dipergunakan untuk asrama pelajar.
 
Lalu pada 1925, gedung STOVIA lama tidak lagi dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran Sekolah Kedokteran pribumi, tetapi berubah menjadi tempat pendidikan untuk MULO (setingkat SMP), AMS (setingkat SMA) dan Sekolah Asisten Apoteker. Nama STOVIA sendiri tetap digunakan hingga 9 Agustus 1927, yaitu saat pendidikan dokter resmi ditetapkan menjadi pendidikan tinggi, dengan nama Geneeskundige Hoogeschool (GHS atau Sekolah Tinggi Kedokteran).
 
3. Era 1942-1950
 
Pada 8 Maret 1942, masa kolonialisme Belanda di Indonesia berakhir akibat kalahnya Tentara Belanda dengan Serdadu Jepang. Hal tersebut sekaligus menandai dimulainya masa kependudukan Jepang di Indonesia. Kontroversi pun terjadi di kalangan mahasiswa kedokteran. GHS dan NIAS (sekolah kedokteran di Surabaya) sempat ditutup.
 
Akhirnya pada 29 April 1943, sekolah kedokteran GHS berubah nama menjadi bernama Djakarta Ika Daigaku (Perguruan Tinggi Kedokteran Jakarta) yang dibuka sebagai hadiah dari pemerintah Jepang untuk Indonesia, dengan Prof. Itagaki sebagai dekan fakultas. Namun pasca Kemerdekaan Indonesia, sekolah tersebut kembali berubah nama menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia oleh sekelompok dokter nasionalis dan mahasiswa yang berjuang untuk merebut gedung yang dikuasai Jepang.
 
 
Pada 1946, Belanda yang kembali menginvasi Indonesia melangsungkan kegiatan pendidikan kedokteran dengan memakai nama Genesskundige Faculteit, Nood-Universiteit van Indonesie. Saat itu Perguruan Tinggi Kedokteran masih ada, namun situasi keamanan di Jakarta sangat genting akibat terjadinya perlawanan rakyat Indonesia terhadap Belanda. Akhirnya Perguruan Tinggi Kedokteran dipindahkan ke Yogyakarta.
 
Sayangnya, saat itu Yogyakarta tidak memilki fasilitas yang cukup untuk mendirikan Perguruan Tinggi Kedokteran, sehingga pendirian Perguruan Tinggi Kedokteran dipindahkan ke Klaten dengan dekan Prof. Dr. Sardjito dan kembali lagi ke Yogyakarta pada 22 Oktober 1949 dan menjadi cikal bakal adanya Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
 
Kemudian tepat pada 2 Februari 1950, Perguruan Tinggi Kedokteran dan Genesskundige Faculteit, Nood-Universiteit van Indonesie dilebur menjadi satu dengan nama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Penyatuan tersebut turut dipelopori dengan penyerahan kedaulatan dari Pemerintah Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia.
 
Selang beberapa waktu kemudian, Indonesia mengalami kekurangan tenaga pengajar medis setelah banyak staf pendidikan kedokteran bangsa Belanda yang dipulangkan pascakemerdekaan. Pendekatan dengan University of California San Francisco (UCSF) pun dilakukan oleh Prof. Sutomo demi mengatasi masalah ini. Akhirnya, setelah negosiasi panjang selama bertahun-tahun, kurikulum baru dapat disusun dengan bantuan UCSF pada 12 Maret 1955. Kurikulum tersebut memiliki masa studi selama 6 tahun dan disebut dengan studi terpimpin (guided study).

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore