Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 11 November 2020 | 23.20 WIB

Pengamat Ungkap Alasan Kualitas Pendidikan Indonesia Belum Meningkat

Guru memberikan materi saat kegiatan belajar mengajar Di SMP Negeri 2, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/8/2020). Pemkot Bekasi memberikan izin kepada enam sekolah untuk melakukan uji coba pembelajaran tatap muka selama satu bulan. Enam sekolah yang sudah mul - Image

Guru memberikan materi saat kegiatan belajar mengajar Di SMP Negeri 2, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/8/2020). Pemkot Bekasi memberikan izin kepada enam sekolah untuk melakukan uji coba pembelajaran tatap muka selama satu bulan. Enam sekolah yang sudah mul

JawaPos.com - Pengamat sosial dan pengajar vokasi Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati mengungkapkan alasan belum adanya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satunya sangat dasar, yakni kurangnya rasa hormat pada guru.

Jika berkaca pada Finlandia dan Jepang yang menjadi kiblat sistem pendidikan di banyak negara, profesi guru di sana sangat bergengsi. Untuk tingkat PAUD saja minimal guru harus S1, untuk jenjang berikutnya minimal S2 dan S3.

Hal tersebut terjadi karena murni untuk meningkatkan kualitas SDM di negaranya, tidak hanya mengejar gelar. Budaya di dua negara tersebut juga menjadikan guru sebagai profesi yang mulia, sehingga membuat timbulnya rasa hormat dalam kegiatan belajar mengajar.

"Di Indonesia ada guru digunduli orang tua, guru di-bully oleh anak murid, karena tidak ada respek, karena dianggap ini bukan profesi bergengsi, tapi lihat kalau terjadi apa-apa, guru yang disalahkan orang tua, tapi mereka sendiri tidak punya respek," ungkapnya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum Panja Peta Jalan Pendidikan secara virtual bersama Komisi X DPR RI, Rabu (11/11).

Kemudian tidak ada perbedaan kelas antara yang pintar dan bodoh, atau yang normal dengan berkebutuhan khusus, semua menjadi satu kelas. Pasalnya, dalam kehidupan bermasyarakat tidak akan ada pembedaan kelas, di sini guru diberikan mandat menjadi fasilitator untuk mempersiapkan mereka menghadapi masa depan.

"Kalau kita mempersiapkan lingkungan sangat memanjakan anak-anak kita, mereka hidup dalam sangkar emas mereka, tapi faktanya di dunia nyata itu tidak terjadi. Finlandia dan Jepang bisa pastikan sekolahnya terbaik dan gurunya itu terbaik yang kualifikasinya jelas," ujarnya.

Kemudian memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih minat dan mencari bakat oleh para guru. Kepercayaan orang tua yang begitu tinggi pada guru juga menjadi kunci kesuksesan sistem pendidikan seperti itu.

"Guru itu menyampaikan bahwa anak itu tidak punya potensi sebagai akademisi, jadi anak itu bisa memilih dua jalur yaitu akademisi dan profesional, di luar negeri itu dua jalur yang terhormat. Jadi ketika dia menempuh pendidkan tidak ada yang boros waktu dan biaya karena minat," tuturnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=mz5DgXGLH0g

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore