
Guru memberikan materi saat kegiatan belajar mengajar Di SMP Negeri 2, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/8/2020). Pemkot Bekasi memberikan izin kepada enam sekolah untuk melakukan uji coba pembelajaran tatap muka selama satu bulan. Enam sekolah yang sudah mul
JawaPos.com - Pengamat sosial dan pengajar vokasi Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati mengungkapkan alasan belum adanya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satunya sangat dasar, yakni kurangnya rasa hormat pada guru.
Jika berkaca pada Finlandia dan Jepang yang menjadi kiblat sistem pendidikan di banyak negara, profesi guru di sana sangat bergengsi. Untuk tingkat PAUD saja minimal guru harus S1, untuk jenjang berikutnya minimal S2 dan S3.
Hal tersebut terjadi karena murni untuk meningkatkan kualitas SDM di negaranya, tidak hanya mengejar gelar. Budaya di dua negara tersebut juga menjadikan guru sebagai profesi yang mulia, sehingga membuat timbulnya rasa hormat dalam kegiatan belajar mengajar.
"Di Indonesia ada guru digunduli orang tua, guru di-bully oleh anak murid, karena tidak ada respek, karena dianggap ini bukan profesi bergengsi, tapi lihat kalau terjadi apa-apa, guru yang disalahkan orang tua, tapi mereka sendiri tidak punya respek," ungkapnya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum Panja Peta Jalan Pendidikan secara virtual bersama Komisi X DPR RI, Rabu (11/11).
Kemudian tidak ada perbedaan kelas antara yang pintar dan bodoh, atau yang normal dengan berkebutuhan khusus, semua menjadi satu kelas. Pasalnya, dalam kehidupan bermasyarakat tidak akan ada pembedaan kelas, di sini guru diberikan mandat menjadi fasilitator untuk mempersiapkan mereka menghadapi masa depan.
"Kalau kita mempersiapkan lingkungan sangat memanjakan anak-anak kita, mereka hidup dalam sangkar emas mereka, tapi faktanya di dunia nyata itu tidak terjadi. Finlandia dan Jepang bisa pastikan sekolahnya terbaik dan gurunya itu terbaik yang kualifikasinya jelas," ujarnya.
Kemudian memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih minat dan mencari bakat oleh para guru. Kepercayaan orang tua yang begitu tinggi pada guru juga menjadi kunci kesuksesan sistem pendidikan seperti itu.
"Guru itu menyampaikan bahwa anak itu tidak punya potensi sebagai akademisi, jadi anak itu bisa memilih dua jalur yaitu akademisi dan profesional, di luar negeri itu dua jalur yang terhormat. Jadi ketika dia menempuh pendidkan tidak ada yang boros waktu dan biaya karena minat," tuturnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=mz5DgXGLH0g

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
