Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 April 2026 | 00.19 WIB

Pola Asuh hingga Media Sosial Jadi Pemicu Anak Kurang Hormat kepada Guru

Psikolog Muhammad Iqbal. (Renda Eko Riyadi/JawaPos.com) - Image

Psikolog Muhammad Iqbal. (Renda Eko Riyadi/JawaPos.com)

JawaPos.com - Fenomena anak yang bersikap kurang ajar terhadap guru hingga orang tua beberapa kali mengemuka di media sosial. Mulai dari tindakan mempermalukan guru di kelas hingga kasus ekstrem kekerasan dalam keluarga. 

Psikolog Muhammad Iqbal menilai kondisi ini dipengaruhi tiga faktor utama, yakni pola asuh dalam keluarga, paparan media sosial, serta pengaruh rekan sebaya.

Pola asuh memiliki peran mendasar dalam membentuk karakter dan kontrol diri anak. Menurut Iqbal, kedekatan emosional atau attachment antara orang tua dan anak menjadi kunci penting dalam membangun perilaku yang sehat.

Pola asuh ini berhubungan dengan attachment. Kalau orang tua sama anak itu dekat, akrab, kompak, harmonis, itu berdampak kepada self control anak,” ujar Iqbal dalam podcast di JawaPos.com pada Jumat (24/4).

Rektor Institut Bisnis dan Komunikasi Swadaya (SWINS) itu menambahkan, kurangnya kelekatan emosional membuat anak cenderung mencari validasi dari luar. Kondisi ini berpotensi memicu perilaku menyimpang karena anak tidak memiliki rasa aman maupun ruang untuk mengekspresikan diri secara sehat di lingkungan keluarga.

Baca Juga: Peran Ayah dalam Kesehatan Anak: Dampak Jangka Panjang dari Pola Asuh dan Coparenting Sehat 

“Kenapa banyak orang butuh validasi? Karena kurang attachment. Dia tidak aman, tidak pernah mendapatkan apresiasi, tidak mendapatkan ruang-ruang aman,” katanya.

Selain faktor keluarga, imbuhnya, media sosial juga menjadi pemicu perubahan perilaku anak menjadi tidak menghargai guru maupun orang tua. Interaksi di dunia digital yang cenderung bebas tanpa batasan norma membuat bahasa kasar hingga perilaku tidak sopan menjadi sesuatu yang dianggap lumrah.

Media sosial ini ketika orang berkomunikasi tidak perlu saling mengenal. Bahasa-bahasa yang secara normal itu tidak baik, tapi sudah dinormalisasi,” jelas dosen tetap di Universitas Paramadina itu.

Faktor ketiga adalah pengaruh rekan sebaya yang sangat kuat, terutama pada usia remaja. Dalam fase ini, Iqbal menyebut bahwa anak cenderung mengikuti lingkungan pertemanannya, termasuk dalam bersikap dan mengambil keputusan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore