
Penampilan sederhana Gerardus Tongopea, seorang guru honor yang fotonya viral di medsos, saat akan mengikuti kegiatan pelatihan Kurikulum 13 di Sentra Pendidikan, Jumat (21/7).
Menjadi seorang guru, apalagi berstatuskan honor memang nasibnya tidaklah sebaik dengan pegawai negeri sipil (PNS). Parahnya lagi melakoni profesi mulia itu di ujung timur Indonesia, Mimika, Papua.
Jangan pernah membayangkan guru di daerah itu memiliki kendaraan bagus, pakaian baru dan lain sebagainya. Namun profesi itu tetap dilakoni. Dialah Gerardus Tongopea, guru honorer yang sempat viral di media sosial.
Viralnya foto Gerardus, karena dia sedang menangis sambil menutupi wajah dengan menggunakan kedua tangannya. Dalam foto yang menghebohkan jagat maya itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Mimika Dominggus Kapiyau duduk di hadapannya terlihat asyik dengan telepon seluler.
Saat ditemui di Sentra Pendidikan di Timika kemarin (21/7), Gerardus tampil persis dengan yang ada di foto. Dia mengenakan kemeja batik merah serta sepatu kets putih yang lusuh, bahkan terlihat sudah rusak.
Hanya celananya yang berbeda. Jika dalam foto dia memakai celana cokelat, kemarin dia mengenakan celana hitam. Sebuah tas ransel yang mulai rusak pun melekat di punggungnya.
Gerardus adalah guru honorer yang mengajar di SD YPPK Mioko. Gajinya hanya Rp 1 juta per bulan. Pembayarannya pun tidak rutin setiap bulan. Kadang Gerardus bersama guru honorer yang senasib dengan dirinya baru dibayar tiga bulan, bahkan bisa sampai enam bulan.
"Pengangkatan dilakukan kepala sekolah. Jadi, tidak ada gaji yayasan. Bergantung pada dana BOS. Kalau lambat, kami bisa digaji sampai enam bulan," jelasnya.
Seperti guru honor lain yang mengabdi di seantero pelosok Mimika, Gerardus yang diberi tanggung jawab sebagai wali kelas IV SD YPPK Mioko merasa senang dengan adanya kebijakan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Mimika yang menyediakan anggaran untuk insentif guru. Gerardus mengaku mulai menerima insentif pada 2015.
Masalah insentif itulah yang membuat khalayak umum terenyuh. Tepatnya, ketika seorang pengguna media sosial menyebarkan fotonya yang sedang menangis. Pada keterangan foto tersebut disebutkan bahwa Gerardus menangis karena meminta insentif segera dibayarkan.
Dia tidak membantah kabar bahwa dirinya menitikkan air mata di hadapan Kabid Kebudayaan Dispendasbud Mimika itu. Namun, dia menyatakan, hal yang sebenarnya terjadi tidak seperti yang orang pikirkan.
Dalam pembicaraannya dengan Dominggus Kapiyau, memang ada bahasan masalah insentif. Tapi, yang membuatnya terharu, Dominggus yang juga pejabat asli suku Kamoro itu memberikan nasihat kepadanya agar tidak patah semangat dalam mendidik anak-anak generasi suku Kamoro. "Jadi, saya cucurkan air mata bukan karena masalah insentif," ungkapnya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
