JawaPos.com - Badan Pusat Statistik (BPS) melansir data yang memprihatinkan. Yaitu sebanyak 4 juta Generasi Z (Gen Z) tidak sekolah maupun kuliah. Jumlah Gen Z yang tidak sekolah dan kuliah itu, setara dengan penduduk Kuwait atau Panama.
Banyaknya jumlah Gen Z yang tidak sekolah dan tidak kuliah itu, menjadi sorotan Kepala Balitbang-Diklat Kemenag Suyitno. Menurut dia, urusan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan di Indonesia, khususnya di jenjang pendidikan tinggi memang masih jadi tantangan sampai saat ini.
"Hal tersebut menjadi tantangan yang dihadapi, maka perlu ada transformasi digital sebagai solusi," katanya dalam sosialisasi Massive Open Online Course (MOOC) di kalangan PTKIN pada Jumat (21/6). Dia mengatakan, bisa jadi jawaban dari persoalan Gen Z tidak kuliah itu adalah kuliah online. Sehingga tidak ada lagi alasan orang tidak kuliah karena tidak ada waktu atau tidak ada biaya.
Lebih lanjut Suyitno juha menegaskan tantangan lain dalam pelatihan maupun pendidikan ke depan. Baik itu oleh lembaga kediklatan, maupun lembaga akademis. "Salah satu tantangan yang dihadapi adalah mahalnya UKT (uang kuliah tunggal). Kondisi disebabkan mindset pelayanan pendidikan masih konvensional," kata Suyitno.
Menurut dia, berbicara soal transformasi digital, maka berbicara tentang dunia maya. Bukan lagi tentang layanan konvensional apalagi tatap muka. Suyitno mengatakan, sekarang sudah bukan zamannya memikirkan kendala daya tampung kelas atau luas lahan kampus. Sepanjang mindset pelayanan pendidikan masih konvensional, kata Suyitno, sepanjang itu pula biaya pendidikan akan mahal.
"Cost pendidikan akan mahal karena kita berbicara tentang infrastruktur yang berbasis pada perawatan atau pembangunan, sehingga pelatihan berbasis MOOC merupakan solusi yang tepat," jelasnya. Merujuk pada poin-poin di atas, lanjut Suyitno, maka MOOC sudah mendesak untuk diterapkan secara luas.
Dia menerangkan MOOC berbeda dengan kuliah online via zoom meeting, sebab metode ini sudah berbasis full e-learning. "Seluruh rangkaian MOOC telah digital, termasuk digitalisasi materi pembelajaran secara synchronous- asynchronous. Bicara siber, maka target mahasiswa dari berbagai belahan dunia," urainya.