
Ilustrasi Beasiswa
JawaPos.com - Isu enggan kembali ke Indonesia sebenarnya bukan hal baru di lingkungan para penerima awardee beasiswa LPDP. Umar Syaroni, awardee beasiswa Afirmasi Disabilitas LPDP di The University of Sydney, Australia, mengatakan kerap mendengar rekannya sesama penerima beasiswa yang ingin tinggal di negara tempat kampusnya berada.
”Di lingkungan terdekatku sih ada yang pengin stay, tapi jadi atau enggaknya aku nggak tahu,” ujar mahasiswa PhD in arts and social sciences itu.
Rata-rata mereka gelap mata karena gajinya lebih tinggi ketimbang di Indonesia. Ditambah, ada gengsi yang diperoleh ketika stay atau bekerja di luar negeri.
Dia mengakui, memang miris jika banyak awardee yang tergiur untuk tidak pulang. Padahal, sudah banyak uang negara yang terpakai untuk pendidikan mereka di luar negeri. ”Studi di luar negeri memang membanggakan. Begitu juga kehidupan yang ditawarkan, cukup menggiurkan. Tapi, sebagai awardee LPDP, seharusnya punya kesadaran untuk pulang ke Indonesia dan berkontribusi di bidang yang ditekuni,” ungkapnya.
Sebagai awardee LPDP, ada kontrak berupa surat pernyataan bermeterai dan berisi kewajiban penerima. Setelahnya, terbit surat keterangan penerima beasiswa yang isinya hak penerima beasiswa dan letter of guarantee untuk bukti pendanaan ke kampus.
Lalu, ada jatah 2n+1 untuk kewajiban berkontribusi di Indonesia setelah lulus. Maksudnya, bekerja secara berturut-turut di Indonesia selama dua kali masa studi ditambah satu tahun. Ada pula sanksi. ”Sanksinya mengembalikan seluruh dana yang dikeluarkan LPDP,” tuturnya.
Sebetulnya, lanjut dia, alumnus LPDP boleh bekerja atau magang di luar negeri. Asalkan, masih terkait dengan Indonesia dan global. Misalnya, bekerja di PBB, World Bank, dan lainnya.
Beda dengan Umar, banyak teman alumnus LPDP Ikbal (bukan nama sebenarnya) yang ”kabur” dan tak kembali ke tanah air setelah masa studinya rampung. Ada yang mendapat beasiswa lanjutan, tapi tetap tak kembali hingga alasan ingin merasakan bekerja di luar negeri. ”Kerja di sana, eh terus dapat jodoh di sana dan nggak balik,” tuturnya.
Sementara itu, di tengah polemik penerima beasiswa LPDP di luar negeri yang tak kembali, kampus di dalam negeri juga sangat diminati para awardee. Universitas Gadjah Mada (UGM), misalnya. Tahun ini, dari total 304 mahasiswa penerima beasiswa LPDP, 85 orang memilih UGM sebagai kampus tujuan. UGM menjadi tujuan favorit nomor satu bagi penerima beasiswa dalam negeri.
”Mungkin karena variasi prodi dan jumlah prodi banyak,” ujar Rektor UGM Ova Emilia saat dikonfirmasi pada Selasa (8/8). Selain itu, kata dia, living cost di Jogja yang terjangkau turut menjadi salah satu faktor tingginya animo mahasiswa untuk belajar di sana. (dee/mia/c7/fal)
