Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 16 Mei 2026 | 04.18 WIB

Orang yang Tumbuh di Keluarga Berpenghasilan Rendah: 7 Pola Perilaku yang Sering Diamati Saat Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang tumbuh di keluarga berpenghasilan rendah (Magnific/rawpixel.com) - Image

seseorang yang tumbuh di keluarga berpenghasilan rendah (Magnific/rawpixel.com)



JawaPos.com - Dalam psikologi perkembangan, masa kecil memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang berpikir, mengelola emosi, dan mengambil keputusan saat dewasa. Namun penting untuk digarisbawahi sejak awal: tidak ada satu pola pun yang berlaku untuk semua orang.

Tumbuh dalam keluarga berpenghasilan rendah tidak otomatis menentukan kepribadian seseorang. Banyak faktor lain yang ikut berperan, seperti dukungan emosional keluarga, lingkungan sekolah, relasi sosial, hingga pengalaman hidup setelah dewasa.

Meski begitu, beberapa penelitian psikologi sosial dan perkembangan menunjukkan bahwa ada kecenderungan tertentu yang lebih sering muncul pada individu yang tumbuh dengan keterbatasan ekonomi. Kecenderungan ini bukan “kekurangan”, melainkan bentuk adaptasi terhadap kondisi hidup.

DIlansir dari Expert Editor, terdapat tujuh pola yang sering dibahas dalam literatur psikologi.

1. Lebih berhati-hati dalam mengambil risiko finansial

Banyak orang yang tumbuh dalam keterbatasan ekonomi cenderung sangat mempertimbangkan setiap keputusan yang melibatkan uang.

Hal ini muncul karena pengalaman masa kecil yang penuh ketidakpastian, seperti:

pendapatan yang tidak stabil
kesulitan memenuhi kebutuhan dasar
pengalaman “uang selalu kurang”

Akibatnya saat dewasa, mereka bisa menjadi:

sangat hemat
enggan berutang
lebih memilih keamanan dibanding peluang berisiko tinggi

Dalam psikologi, ini sering dipahami sebagai bentuk risk aversion (penghindaran risiko) yang adaptif.

2. Sensitivitas tinggi terhadap ketidakpastian

Orang dengan latar belakang ekonomi sulit sering lebih peka terhadap situasi yang tidak stabil.

Misalnya:

perubahan pekerjaan
pengeluaran tak terduga
situasi darurat kecil

Sensitivitas ini bukan kelemahan, tetapi hasil dari pengalaman hidup yang mengajarkan bahwa ketidakpastian bisa berdampak besar.

Dalam banyak kasus, hal ini membuat seseorang:

lebih waspada
lebih cepat mencari solusi
lebih siap menghadapi kemungkinan terburuk
3. Dorongan kuat untuk “keluar dari kesulitan”

Banyak individu dari latar belakang ekonomi rendah memiliki motivasi tinggi untuk memperbaiki kondisi hidupnya.

Ini bisa terlihat sebagai:

ambisi pendidikan yang besar
kerja keras berlebihan (overworking)
keinginan kuat untuk stabil secara finansial

Dalam psikologi motivasi, ini sering disebut sebagai achievement motivation, yang bisa menjadi kekuatan besar dalam kehidupan seseorang.

Namun dalam beberapa kasus, dorongan ini juga bisa berubah menjadi tekanan internal yang tinggi.

4. Sulit merasa “cukup” secara finansial

Beberapa orang yang tumbuh dengan keterbatasan ekonomi mungkin membawa pola pikir “uang selalu kurang” hingga dewasa.

Akibatnya:

sulit merasa aman meskipun sudah memiliki penghasilan stabil
cenderung terus menabung secara berlebihan
sulit menikmati hasil kerja sendiri

Psikologi menyebut ini sebagai bentuk scarcity mindset (pola pikir kelangkaan), yaitu cara berpikir yang terbentuk dari pengalaman kekurangan berkepanjangan.

5. Sangat menghargai stabilitas dan keamanan

Karena masa kecil yang mungkin penuh ketidakpastian, stabilitas menjadi sesuatu yang sangat penting.

Hal ini dapat terlihat dalam pilihan hidup seperti:

memilih pekerjaan yang aman daripada yang penuh risiko
menghindari perubahan besar
mencari hubungan yang stabil dan dapat diprediksi

Dalam banyak kasus, ini membantu seseorang membangun kehidupan yang lebih terstruktur, meskipun kadang bisa mengurangi keberanian untuk mencoba hal baru.

6. Kebiasaan membantu keluarga secara finansial

Dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia, individu yang berhasil secara ekonomi sering merasa bertanggung jawab terhadap keluarga asalnya.

Ini bisa terlihat sebagai:

mengirim uang ke orang tua atau saudara
menanggung biaya rumah tangga keluarga
menunda kebutuhan pribadi demi keluarga

Secara psikologis, ini berkaitan dengan nilai kolektivisme dan tanggung jawab keluarga, bukan semata faktor ekonomi.

7. Hubungan yang kompleks dengan uang (emosional, bukan hanya rasional)

Bagi sebagian orang, uang bukan hanya alat ekonomi, tetapi juga simbol keamanan, kebebasan, atau bahkan trauma masa lalu.

Akibatnya, hubungan mereka dengan uang bisa menjadi kompleks:

bisa sangat hemat atau justru impulsif di titik tertentu
merasa cemas saat pengeluaran meningkat
sulit membedakan kebutuhan dan keinginan secara emosional

Psikologi modern melihat ini sebagai bentuk emotional conditioning terhadap pengalaman masa kecil.

Penting untuk Dipahami

Semua poin di atas adalah kecenderungan umum, bukan aturan mutlak.

Banyak orang yang tumbuh dalam keluarga berpenghasilan rendah justru:

sangat percaya diri secara finansial
berani mengambil risiko
memiliki hubungan sehat dengan uang
dan berkembang tanpa membawa “bekas psikologis” yang signifikan

Sebaliknya, orang dari keluarga mampu pun bisa mengalami pola yang sama karena faktor lain seperti trauma, pendidikan, atau lingkungan sosial.

Kesimpulan

Tumbuh dalam keterbatasan ekonomi dapat membentuk cara seseorang melihat dunia, terutama terkait uang, keamanan, dan risiko. Namun, pengalaman tersebut tidak menentukan masa depan seseorang.

Dalam psikologi, yang lebih penting bukan latar belakang ekonominya, tetapi bagaimana seseorang memaknai dan mengolah pengalaman tersebut.

Jika dipahami dengan sehat, pengalaman masa kecil justru bisa menjadi sumber ketangguhan, empati, dan motivasi yang kuat dalam kehidupan dewasa.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore