
Ilustrasi kesalahan pola asuh berdampak pada perkembangan mental anak sejak dini (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Setiap orang tua pasti mendambakan memiliki anak yang tumbuh menjadi individu yang percaya diri, tangguh, dan mampu mengelola emosinya dengan baik.
Namun, tanpa disadari, seringkali ada frasa atau ucapan yang terasa biasa saja tetapi memiliki dampak destruktif jangka panjang pada psikis anak.
Kalimat-kalimat ini bisa mengikis harga diri mereka, mematikan rasa ingin tahu, bahkan membuat mereka meragukan validitas perasaan mereka sendiri.
Membesarkan anak yang percaya diri bukanlah soal memanjakan, melainkan soal memilih kata-kata yang mendukung pertumbuhan mental dan emosional mereka.
Bahasa yang digunakan orang tua sangat menentukan bagaimana anak memandang dirinya dan dunia di sekitarnya.
Yuk, kita bongkar tujuh frasa umum yang wajib kamu hindari jika kamu ingin anakmu tumbuh menjadi pribadi yang berani, mandiri, dan penuh keyakinan, seperti dirangkum dari laman Your Tango.
Ketika seorang anak menunjukkan emosi yang kuat, entah itu sedih, marah, atau kecewa, dan kamu langsung melabelinya dengan frasa "Kamu terlalu sensitif", tanpa sadar kamu sedang menolak dan mengabaikan perasaannya.
Frasa ini mengajarkan anakmu untuk tidak memercayai apa yang mereka rasakan. Seolah-olah, perasaan mereka itu salah atau berlebihan. Padahal, validasi emosional adalah kunci utama dalam membangun harga diri yang kuat.
Daripada menolaknya, cobalah untuk mengakui "Iya, mama/papa lihat kamu marah/sedih" dan bantu mereka mengelola emosi tersebut.
Ini mengirimkan pesan bahwa semua perasaan itu normal dan bisa dikelola, bukan suatu kelemahan yang harus disembunyikan.
Mungkin frasa ini adalah jurus pamungkas untuk mengakhiri perdebatan yang melelahkan. Namun, menutup diskusi dengan sikap otoriter "Karena aku bilang begitu" secara efektif mematikan api rasa ingin tahu dan pemikiran kritis anakmu.
Anak-anak yang tumbuh percaya diri dibesarkan oleh orang tua yang mau repot menjelaskan alasannya, bahkan jika keputusan akhirnya tetap sama.
Dengan menjelaskan mengapa suatu aturan ada, kamu mengajarkan mereka tentang logika dan konsekuensi.
Pengasuhan yang mendukung otonomi ini mendorong mereka menjadi pribadi yang mandiri dan mampu membuat keputusan yang baik, alih-alih hanya patuh karena takut.
Ini adalah racun paling cepat untuk menghancurkan kepercayaan diri. Ketika orang yang paling mereka cintai dan percayai meramalkan kegagalan, anak akan langsung menanamkan batasan mental itu pada dirinya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Prediksi Skor Liechtenstein vs Lithuania di Liga Nations UEFA: Rinktinė Menang di Kandang Lawan
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Jepang vs Uruguay: Ko Itakura Targetkan Kemenangan
Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di Liga Nations UEFA: The Green Army Curi Poin di Fadil Vokrri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022