Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 1 Juli 2025 | 23.59 WIB

7 Batasan yang Tidak Boleh Dilanggar Orang Tua terhadap Anak Mereka yang Telah Dewasa, Menurut Psikologi

7 Batasan yang Tidak Boleh Dilanggar Orang Tua terhadap Anak Mereka yang Telah Dewasa, Menurut Psikologi - Image

7 Batasan yang Tidak Boleh Dilanggar Orang Tua terhadap Anak Mereka yang Telah Dewasa, Menurut Psikologi

JawaPos.com - Belakangan ini, topik soal batasan semakin sering dibicarakan. Namun, masih jarang yang menyoroti kenyataan bahwa batasan tidak serta-merta lenyap begitu anak berusia 18 tahun. Justru, beberapa batasan terpenting baru mulai terbentuk di masa itu.

Tumbuh dewasa bukan berarti menjauh, tapi berarti tumbuh dengan cara yang berbeda. Bagi orang tua, transisi ini bisa terasa seperti meniti tali, salah langkah sedikit bisa membuat hubungan terasa terlalu sempit atau justru terlalu renggang.

Bayangkan saja seperti merawat pohon bonsai. Akar dan arah pertumbuhan sudah terbentuk, tugas selanjutnya adalah menciptakan ruang, memberi cahaya, dan tahu kapan waktunya berhenti memangkas.

Lalu, seperti apa bentuknya dalam kehidupan sehari-hari?

Dilansir dari VegOut, berikut tujuh batasan penting yang menurut psikologi sebaiknya tidak dilanggar oleh orang tua kepada anak-anak dewasa mereka. Juga bagaimana menghormatinya bisa justru memperkuat ikatan dalam jangka panjang.

1. Datang Tanpa Pemberitahuan

Saat anak masih kecil, masuk ke kamar tanpa mengetuk mungkin bukan masalah besar. Namun sekarang, datang ke rumah atau apartemen mereka tanpa pemberitahuan, bahkan dengan niat baik, bisa terasa seperti pelanggaran privasi.

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dewasa yang merasa otonominya dihormati cenderung memiliki hubungan yang lebih positif dan dekat dengan orang tuanya. Dan otonomi itu dimulai dari hal sederhana: ruang.

Kirim pesan atau telepon dulu sebelum datang. Bahkan pemberitahuan singkat bisa menyampaikan pesan penting bahwa waktu dan ruang mereka diakui sebagai milik mereka sendiri. Rasa hormat kecil ini bisa berdampak besar.

2. Mengomentari Berat Badan, Tubuh, atau Penampilan

Banyak orang tua yang terpeleset di bagian ini dengan maksud peduli, tapi berujung menyakiti. Kalimat seperti, “Kamu kelihatan capek,” atau “Berat badanmu naik ya?” bisa terdengar menyinggung, bukan mendukung.

Psikologi menunjukkan bahwa komentar orang tua tentang tubuh seringkali memicu rasa tidak aman, terutama pada anak perempuan. Bahkan pujian yang terkesan positif bisa memperkuat gagasan bahwa nilai diri tergantung pada penampilan.

Jika memang khawatir, lebih baik fokus pada perasaan, bukan tampilan luar. Pertanyaan seperti, “Kamu merasa baik-baik saja?” atau “Tidurmu cukup nggak akhir-akhir ini?” membuka ruang untuk koneksi tanpa menyudutkan.

3. Membuat Mereka Merasa Bersalah karena Jarang Menelepon atau Berkunjung

Setiap orang tua tentu ingin merasa dirindukan. Tapi ketika kerinduan itu disampaikan dengan kalimat bernada menyalahkan seperti, “Kalau kamu peduli, kamu pasti lebih sering menelepon,” hubungan justru bisa merenggang.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore