Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 7 April 2026 | 02.10 WIB

Honda Ubah Strategi Besar, Akui Sulit Kejar Kecepatan BYD dan Geely

Salah satu produk kolaborasi Honda dengan pabrikan Tiongkok. (Istimewa) - Image

Salah satu produk kolaborasi Honda dengan pabrikan Tiongkok. (Istimewa)

JawaPos.com - Honda Motor Company kembali mengubah arah strateginya di tengah tekanan besar dari industri otomotif China. Setelah sebelumnya membatalkan sejumlah rencana kendaraan listrik (EV) di Amerika Serikat, kini Honda memilih menghidupkan kembali model lama di divisi riset dan pengembangan atau R&D.

Langkah ini bukan sekadar penyesuaian internal biasa. Honda disebut kembali memberi ruang lebih besar kepada para insinyurnya untuk bergerak lebih bebas, terpisah dari struktur korporasi yang selama ini dianggap terlalu kaku.

Bagi Honda, keputusan ini bukan hal baru. Pada 1960, pabrikan asal Jepang tersebut memang pernah membangun divisi R&D sebagai unit semi-independen. Pendekatan itu terbukti sukses melahirkan sejumlah inovasi penting, termasuk mesin CVCC yang terkenal ramah emisi pada era 1970-an.

Teknologi itu pula yang ikut mengangkat nama Honda Civic generasi pertama di pasar Amerika Serikat dan membantu memperkuat posisi Honda sebagai pemain besar di industri otomotif global.

Honda Tinggalkan Strategi Efisiensi, Kembali ke Pola Lama

Namun pada 2020, Honda justru memilih arah berbeda. Perusahaan saat itu memusatkan pengembangan produk demi alasan efisiensi, penyederhanaan proses, dan percepatan pengambilan keputusan.

Kini, strategi tersebut tampaknya dianggap kurang efektif menghadapi perubahan pasar yang sangat cepat, terutama dari para rival asal Tiongkok.

Honda menilai bahwa kebebasan berinovasi justru lebih penting dibanding struktur kerja yang terlalu terpusat. Dengan kata lain, perusahaan kini kembali percaya bahwa ide besar sering lahir dari ruang eksperimen yang lebih longgar.

Gempuran BYD dan Geely Jadi Alarm Serius

Alasan utama di balik perubahan strategi ini tak lepas dari kebangkitan produsen mobil China seperti BYD dan Geely. Dalam beberapa tahun terakhir, merek-merek Tiongkok berhasil bergerak sangat cepat. Mereka mampu mengembangkan model baru, mempercepat produksi, dan menghadirkan teknologi modern dalam waktu yang jauh lebih singkat dibanding banyak pabrikan tradisional.

Jika pabrikan Jepang umumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk meluncurkan mobil baru, perusahaan Tiongkok disebut bisa melakukannya hanya dalam waktu sekitar 18 bulan.

Kecepatan itu didukung oleh pengembangan software yang agresif, integrasi digital yang kuat, serta pabrik yang semakin canggih dan otomatis. Situasi ini menjadi tantangan serius bagi Honda.

CEO Honda Akui Tekanan dari Tiongkok Sangat Besar

Tekanan dari para pesaing China bahkan disebut sangat terasa di level tertinggi perusahaan. CEO Honda, Toshihiro Mibe, dikabarkan mengakui bahwa skala dan kecepatan industri otomotif China sangat sulit ditandingi. Pernyataan itu mencerminkan bahwa Honda kini berada dalam fase evaluasi besar-besaran.

Bukan tanpa alasan. Penjualan Honda di pasar China terus mengalami tekanan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, penjualannya bahkan dilaporkan turun cukup tajam.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore