Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 9 Januari 2025 | 15.14 WIB

Subsidi Dicabut, Penjualan Mobil Listrik di Jerman Terjun Bebas

Mobil listrik Renault Twinzy diparkir di salah satu ruas jalan di Berlin, Jerman. (Dinarsa Kurniawan/JawaPos.com)

 
 
JawaPos.com - Tak seperti di Amerika Serikat dan Tiongkok yang mengalami pertumbuhan penjualan kendaraan listrik selama 2024. Pasar mobil terbesar di Eropa, Jerman, malah mengalami penurunan yang cukup signifikan.
 
 
Seperti dilansir dari Carscoops, penjualan di Jerman turun hingga 27,4 persen lantaran subsidi penting dipotong dan ekonomi Jerman sedang terpuruk. 
 
Secara total, hanya 380.609 kendaraan listrik bertenaga baterai (BEV) baru yang terjual di negara itu tahun lalu. Penurunan tajam dari angka 2023 dan kemerosotan yang menyeret pangsa pasar EV turun menjadi hanya 13,5 persen. 
 
Saat kendaraan listrik sedang berjuang, mobil hibrida tradisional menikmati tahun yang jauh lebih baik di Jerman. Penjualan mobil hibrida melonjak 12,7 persen dengan 947.398 unit. Angka tersebut mewakili pangsa pasar sebesar 33,6 persen dari semua mobil baru yang terjual. 
 
Penjualan mobil hibrida plug-in juga tumbuh selama 2024, naik sebesar 9,2 persen menjadi 191.905 unit. Meskipun terjadi lonjakan ini, mobil hibrida masih memiliki pangsa pasar yang relatif kecil, yaitu 6,8 persen.
 
Mobil bertenaga bensin tetap menjadi jenis mesin yang paling umum di Jerman, dengan pangsa pasar sebesar 35,2 persen. Tahun lalu, 991.948 unit terjual, yang berarti kenaikan sebesar 1,4 persen. 
 
Semenrara itu, penjualan mobil diesel melambat sebesar 0,7 persen, dengan 483.261 unit. Angka ini cukup untuk menguasai pangsa pasar sebesar 17,2 persen.
 
Alasan utama merosotnya penjualan kendaraan listrik di seluruh negeri adalah keputusan kontroversial pemerintah untuk mencabut subsidi pada akhir Desember 2023. 
 
Menteri transportasi setempat Volker Wissing ingin melihat pasar kendaraan listrik berdiri sendiri tanpa bantuan pemerintah.
 
Di samping itu semua, nampaknya akan ada harapan bagi warga Jerman yang ingin memperoleh bantuan mengenai kendaraan listrik. 
 
Negara itu akan memilih pemimpin baru pada 23 Februari. Bahkan, Kanselir Olaf Scholz telah mengusulkan program dukungan baru di tingkat Eropa untuk diperkenalkan. 
 
Beberapa politisi telah bergabung, dengan menyatakan bahwa industri otomotif membutuhkan lebih banyak bantuan, terutama karena Uni Eropa terus melanjutkan rencananya dalam melarang penjualan mobil bermesin pembakaran baru dalam beberapa tahun mendatang. (*)
Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore