Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 Agustus 2024 | 13.16 WIB

Beda dari Mobil Listrik, Mobil Hybrid Batal Dapat Insentif, Hyundai Bilang Begini

Ilustrasi Kinang Innova Zenix bermesin hybrid. (Agfi Sagittian/Jawa Pos) - Image

Ilustrasi Kinang Innova Zenix bermesin hybrid. (Agfi Sagittian/Jawa Pos)

JawaPos.com - Tidak seperti mobil listrik yang menggunakan 100 persen energinya dari baterai, mobil berbasis elektrifikasi lainnya yakni hybrid tidak mendapatkan keistimewaan. Yang dimaksud adalah pemberian insentif dari pemerintah.

Hal tersebut membuat harga mobil hybrid tetap mahal. Sebabnya karena tidak diberikan subsidi oleh pemerintah seperti halnya mobil full Battery Electric Vehicle (BEV). Padahal sebelumnya, hal ini dinantikan juga oleh para APM di Indonesia.

Hal tersebut sudah disahkan oleh pemerintah, melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan tidak ada penambahan kebijakan baru untuk sektor otomotif pada tahun ini.

"Maka untuk otomotif, kebijakannya sudah dikeluarkan. Tidak ada perubahan kebijakan dan tambahan lain," ucap Airlangga di Jakarta baru-baru ini.

Dengan tidak adanya perubahan, artinya pemerintah juga tidak akan mengeluarkan kebijakan dalam memberikan insentif untuk kendaraan hibrida di Indonesia. Menurut Airlangga, segmen ini sudah sangat mendapatkan sambutan yang baik bahkan tumbuh hingga dua kali lipat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

"Kalau kita lihat, penjualan dari mobil hybrid hampir dua kali penjualan BEV. Jadi sebenarnya product hub hybrid itu sudah berjalan dengan mekanisme yang ada sekarang," kata Airlangga.

Terkait dengan keputusan pemerintah, tidak memberikan insentif kepada kendaraan hybrid, Fransiscus Soerjopranoto yang merupakan Chief Operating Officer Hyundai Motors Indonesia (HMID) menyebutkan bahwa pihaknya siap mematuhi aturan pemerintah tersebut.

"Hyundai siap mematuhi dan melaksanakan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah," kata Frans, sapaan karibnya saat dihubungi JawaPos.com.

Dirinya melanjutkan, dengan pemerintah akhirnya memutuskan bahwa kendaraan hybrid tidak diberikan insentif, hal ini menjawab pertanyaan yang menggantung sebelumnya. Para APM sebelumnya memang menantikan kepastian tersebut, apakah pemerintah memberikan insentif kepada mobil hybrid atau tidak.

Dikatakan Frans, dengan akhirnya dipastikan tidak diberikan insentif, hal ini juga akan menjawab keraguan di masyarakat. Demikian pula oleh APM yang tidak khawatir dalam menentukan harga.

"Iya, dan jadi jelas buat konsumen. Sehingga tidak khawatir rugi membeli sekarang karena di kemudian hari harga turun," tegas Frans.

Sebagai informasi, dalam catatan dari Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) penjualan wholesales atau dari pabrik ke diler untuk mobil hybrid sebesar 46,08 persen year on year menjadi 24.066 unit pada semester 1 di 2024. Volume penjualan mobil hybrid lebih banyak dibanding mobil listrik rakitan lokal yang hanya mampu terjual 11.051 unit.

Bahkan menurut Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiartopun sempat menyatakan bahwa lakunya mobil hybrid lebih banyak dibanding BEV di Indonesia, salah satunya karena kemudahan dan harga yang lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore