alexametrics
GIIAS 2019

Mobil Listrik Disebut Lebih Efisien, Berikut Hitungan Sederhananya

25 Juli 2019, 21:47:15 WIB

JawaPos.com – Mobil listrik disebut-sebut memiliki efisiensi energi yang terpaut cukup jauh jika dibandingkan dengan mobil konvensional berbahan bakar fosil (combustion). Banyak pihak mengatakan, mobil listrik adalah masa depan dari mobil dengan sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

Bicara soal efisiensi mobil listrik, Deputy Product Division Head PT Sokonindo Automobile (DFSK Motors) Ricky Humisar Siahaan memberikan sedikit hitung-hitungan sederhana soal konsumsi daya mobil listrik jika dibandingkan dengan mobil combustion. Dirinya menjabarkan mobil listrik yang dimaksud adalah full Battery Electric Vehicle (BEV) dan teknologinya memungkinkan dilakukan pengisian daya sendiri dengan listrik rumah.

Sebagai contoh, dirinya menggunakan teknologi listrik yang ada di mobil DFSK Glory E3 yang mejeng di GIIAS 2019. Mobil tersebut diklaim memiliki jarak jelajah maksimum sejauh 405 km dengan sekali pengisian daya penuh dan menyedot listrik sebesar 52,56 Kwh.

“Hitungan menurut saya sederhana, kalau beli pulsa (token) listrik Rp 100 ribu itu biasanya bisa dapat 66 Kwh, kalau beli token segitu, terus dipakai mengecas mobil (dalam hal ini DFSK Glory E3) sampai penuh hanya 52,56 Kwh. Masih bisa dipakai sisanya. Mobil bisa dipakai menempuh jarak 405 km. Kebayang kan iritnya,” ujarnya dalam sebuah sesi media mengupas mobil listrik DFSK Glory E3 di GIIAS 2019.

Dirinya melanjutkan, dengan jarak jelajah segitu, sekali pengisian daya, DFSK Glory E3 mampu berjalan dengan modal Rp 100 ribu untuk mengisi daya yang bisa digunakan dari Jakarta menuju Semarang.
“Kalau dibandingkan dengan mobil seperti LCGC paling irit sekalipun, tidak mungkin mencapai harga semurah mobil listrik,” sambungnya.

DFSK mengklaim mereka melengkapi paket penjualan mobil listriknya dengan dua port charging yaitu normal charging dan fast charging. Pada mode normal, pengisian baterai membutuhkan waktu hingga 8 jam. Adapun pengisian melalui fast charging yang bisa dilakukan di Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) cukup 30 menit untuk pengisian dari 20 persen hingga 80 persen.

Dalam kesempatan tersebut, Ricky juga menjabarkan jenis-jenis mobil listrik yang ada saat ini. Pertama mobil listrik hybrid yang dipadukan dengan energi combustion sebagai motor penggerak dinamo listrik untuk kemudian menyimpan daya di baterai, selanjutnya ada Plugin Hybrid Electric Vehicle PHEV (PHEV) yang sudah menggunakan teknologi baterai yang bisa dicas menggunakan charger plugin dan mobil listrik full BEV yang full menggunakan baterai listrik dan pengecasan adalah daya satu-satunya.

Pengecasan mobil listrik (Induced)

Sementara itu, terkait mobil listrik, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi juga menyebut demikian. Ada banyak jenis-jenis mobil listrik yang perlu diketahui masyarakat dan bagaimana cara kerjanya.

Dalam kesempatan terpisah, Nangoi mengatakan bahwa mobil listrik memang lebih efisien dan ramah lingkungan mengingat sumber energinya tidak menghasilkan gas buang. Namun mobil listrik dalam penggunaan jangka panjang juga perlu dicermati efeknya.

“Mobil listrik atau BEV sangat bersih, tapi kan baterainya dipakai sekian tahun sehingga penggunaan baterainya bisa menjadi masalah. Bayangkan di Indonesia pemakaian mobil 1,2 juta lebih atau 2 juta pada 10 tahun lagi, kalau itu semua listrik dan baterainya harus dibuang, waduh, bayangkan limbahnya bagaimana,” jelas Nangoi kepada JawaPos.com di sela-sela Gaikindo Indonesia Automotive Conferences (GIAC), Rabu (24/7) sore.

Nangoi menambahkan teknologi full baterai pada bus listrik misalnya. Busnya memiliki bobot 3 ton, sementara baterainya sendiri memiliki bobot hampir 2 ton. Nangoi menyoroti penanganan limbah baterai mobil listrik memang juga harus dipertimbangkan.

“Bayangkan efek lebih jauhnya, baterai kalau tidak di recycle dengan infrastruktur yang memadai, itu sangat berbahaya. Itu juga harus dipikirkan. Ini (mobil) listrik seolah-olah seperti pemakaian tidak ada emisi, tapi setelah pemakaian 10 tahun ke depan mobil (listrik) ini justru menghadirkan emisi yang luar biasa dalam bentuk limbah baterai. Itu kan beracun dan harus dikelola dengan serius. Semua ada untung dan ruginya,” tegasnya.

Soal elektrifikasi disebut masih jauh dari realisasi di Indonesia, Nangoi menyebut perlu membangun infrastruktur terlebih dahulu baru kemudian bicara banyak soal mobil listrik. Nangoi memprediksi bahwa untuk elektrifikasi di Indonesia sesegera mungkin harusnya sudah bisa jalan dalam waktu dekat.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Rian Alfianto


Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads