Logo JawaPos
Author avatar - Image
Penulis: Nanda Prayoga
Selasa, 3 November 2026 | 01.15 WIB

Mahalnya Biaya Internet jadi Hambatan Pengembangan AI di Indonesia

Ilustrasi internet fix broadband. (TechiT Services) - Image

Ilustrasi internet fix broadband. (TechiT Services)

JawaPos.com - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menilai mahalnya biaya internet dan rendahnya penetrasi fixed broadband masih menjadi hambatan dalam memperkuat ekosistem kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) di Indonesia.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan, pengembangan AI tidak bisa dilepaskan dari ketersediaan jaringan telekomunikasi. Sebab, konektivitas menjadi kebutuhan utama dalam proses pengiriman, pertukaran, hingga pengumpulan data.

“Tidak ada pertukaran data tanpa jaringan telekomunikasi. Tidak ada transfer data yang terjadi. Tidak ada data yang bisa dikumpulkan oleh cloud kalau jaringan telekomunikasi tidak bekerja dengan baik,” ujar Wamen Nezar dalam Lintas Teknologi Solutions Day 2026 di Jakarta Timur, Sabtu (31/10).

Menurutnya, jaringan telekomunikasi memiliki posisi penting dalam rantai pasok AI, sama seperti listrik, energi, dan air. Karena itu, pemerataan akses internet perlu dipercepat agar pemanfaatan teknologi dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

Saat ini, cakupan jaringan 4G sudah mencapai hampir 99 persen wilayah permukiman. Sementara penetrasi internet nasional mendekati 81 persen. Namun, penggunaan fixed broadband atau internet kabel untuk rumah tangga baru berada di kisaran 22 persen.

Salah satu persoalannya adalah biaya berlangganan yang masih relatif tinggi. Rata-rata tarif fixed broadband di Indonesia mencapai Rp300 ribu per bulan. Angka tersebut lebih mahal dibandingkan India yang berkisar USD 5 hingga USD 10.

Pemerintah pun menargetkan peningkatan kecepatan internet hingga 100 Mbps dengan biaya yang lebih terjangkau untuk memperluas penggunaan broadband di rumah tangga.

“Targetnya adalah 100 Mbps dengan biaya internet yang lebih murah sehingga penetrasi ke rumah tangga semakin masif. Dengan demikian, penyebaran teknologi bisa berlangsung lebih cepat,” tutur Wamen Nezar.

Selain memperluas akses internet, pemerintah juga mendorong pembangunan jaringan 5G. Teknologi tersebut dinilai lebih sesuai untuk mendukung kebutuhan AI karena memiliki latensi rendah yang memungkinkan proses komputasi dan pengambilan keputusan berlangsung lebih cepat.

“Kalau kita berbicara tentang AI, teknologi yang paling tepat adalah 5G karena memiliki latensi lebih rendah untuk membantu komputasi dan pengambilan keputusan yang lebih cepat,” ungkap Wamen Nezar.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore