Logo JawaPos
Author avatar - Image
Penulis: Muhtamimah
Senin, 2 November 2026 | 23.08 WIB

Komponen Drone Masih Impor, Frogs Indonesia Berhasil Capai TKDN 66 Persen

Frogs Indonesia terus meningkatkan kandungan lokal produknya. Namun, komponen kritis seperti baterai, motor listrik, dan propeller masih harus didatangkan dari luar negeri. (Dok. Frogs) - Image

Frogs Indonesia terus meningkatkan kandungan lokal produknya. Namun, komponen kritis seperti baterai, motor listrik, dan propeller masih harus didatangkan dari luar negeri. (Dok. Frogs)

JawaPos.com - Industri manufaktur drone dalam negeri masih menghadapi tantangan ketergantungan terhadap komponen impor. Sejumlah komponen kritis, seperti baterai, motor listrik (DC motor), dan propeller, belum dapat diproduksi secara mandiri di Indonesia.

Kondisi tersebut membuat penguatan rantai pasok lokal menjadi pekerjaan rumah bagi industri drone nasional.

CEO Frogs Indonesia Adhitya Chandra mengatakan, perusahaan terus mengembangkan kemampuan manufaktur dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk asing. Salah satu upayanya dilakukan melalui pengembangan teknologi dan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Saat ini, sejumlah produk drone Frogs Indonesia telah mengantongi sertifikat TKDN yang dinilai oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Bahkan, TKDN salah satu produknya mencapai 66 persen, meningkat dari sebelumnya 53 persen.

"Untuk bisa bersaing di pasar Indonesia, kami harus punya sertifikasi TKDN. Karena itu, beberapa drone kami sudah dilengkapi sertifikat TKDN yang diasesmen Kementerian Perindustrian," kata Adhitya di ajang PERIKLINDO Electric Vehicle Show (PEVS) 2026 di JIExpo Kemayoran, Minggu (1/11).

Bidik Kebutuhan Drone Pertanian

Produk yang dikembangkan Frogs mencakup drone pemetaan, pertanian, kargo, hingga pembersihan gedung. Untuk sektor pertanian, perusahaan menyediakan drone penyemprot pestisida dan pupuk, pembibitan, serta pemantauan kesehatan tanaman.

Menurut Adhitya, kebutuhan drone pertanian berpotensi meningkat seiring dengan program ketahanan pangan nasional. Salah satunya program cetak sawah yang membutuhkan dukungan teknologi untuk mempercepat proses ekstensifikasi pertanian.

Dia menyebut, kebutuhan drone untuk program cetak sawah di Papua saja diperkirakan mencapai lebih dari 7.000 unit dengan cakupan lahan sekitar 160 ribu hektare. Kebutuhan serupa juga muncul di sejumlah wilayah lain.

"Mulai dari pemetaan lahan, penyebaran bibit, penyemprotan pestisida dan pupuk, sampai pemantauan kesehatan tanaman, semuanya bisa dibantu menggunakan drone. Jenis dronenya berbeda-beda sesuai fungsi," jelasnya.

Frogs sendiri telah memasok drone pertanian melalui pengadaan Kementerian Pertanian selama dua tahun terakhir. Pada tahap awal, terdapat 50 unit yang dibeli, kemudian meningkat menjadi 250 unit pada tahun berikutnya. Tahun ini, pengadaan tercatat sebanyak 100 unit.

Editor: Hendra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore