Ilustrasi Hacker. Sejumlah pakar keamanan IT meminta pemerintah dan DPR agar memasukan RUU Perlindungan Data Pribadi sebagai prioritas prograk legislasi nasional (prolegnas).
JawaPos.com–Pusat Data Nasional (PDN) pada Kamis (20/6) lumpuh atau terjadi gangguan pada server. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) menjelaskan gangguan yang terjadi akibat serangan dari Ransomware.
Menurut Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Hinsa Siburian, serangan server PDN merupakan ransomware jenis baru yaitu lock bit 302. Menyerang PDN Surabaya, yang dikelola PT Telkom di Jawa Timur.
Hacker tersebut meminta tebusan 8 juta dollar Amerika Serikat atau senilai Rp 131 miliar. Hal itu pun direspons dengan penolakan dan tetap berusaha memulihkan server PDN yang down.
Sekitar 210 instansi yang terdampak serangan itu. Dirjen Aplikasi Informatika Semuel A. Pangerapan menambahkan, beberapa server sudah dipulihkan dan yang lain diupayakan dipercepat pemulihannya.
Apa itu ransomware yang mampu melumpuhkan Pusat Data Nasional? Dikutip dalam laman Microsoft, ransomware adalah sejenis program jahat atau malware, yang dapat menghancurkan akses ke data atau sistem penting. Serangan mengandalkan perampokan kendali atas data lembaga atau perorangan.
Para pelaku atau hacker itu berusaha untuk meminta tebusan dalam jumlah yang cukup besar untuk mengembalikan sistem kepada pemiliknya. Adapun yang biasa digunakan pelaku untuk meretas dengan ransomware:
Ransomware sering masuk melalui email phishing dengan lampiran berbahaya atau tautan yang mengunduh malware saat di-klik.
Pelaku juga bisa memanfaatkan kerentanan perangkat lunak yang belum ditambal untuk memasukkan ransomware.
Ransomware dapat terunduh secara otomatis ketika korban mengunjungi situs web yang terinfeksi (Drive-by Download).
Setelah masuk ke sistem, ransomware akan dijalankan dan mulai mengenkripsi file pada komputer korban. Beberapa jenis ransomware dapat menyebar ke perangkat lain di jaringan yang sama, meningkatkan dampak infeksi.
Ransomware menggunakan algoritma enkripsi yang kuat untuk mengunci file korban. Sehingga, file tersebut tidak dapat diakses tanpa kunci dekripsi yang hanya diketahui pelaku.
File yang biasanya diserang termasuk dokumen, gambar, database, dan jenis file penting lain. Tak hanya organisasi tetapi individu pun bisa mendapatkan serangan itu. Sehingga jangan sampai tertipu klik link atau gambar tanpa mengetahui pengirim.

Prediksi Skor Kanada vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: Alphonso Davies Diragukan Tampil!
Beredar Kabar Komedian Bolot Meninggal Dunia, Begini Faktanya
Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Pembuktian Magis Christian Pulisic
Prediksi Skor Timnas Qatar vs Swiss di Piala Dunia 2026: The Maroons Terancam Gagal Start Sempurna
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Prediksi Duel Seru Korea Selatan vs Ceko, Son Heung-min Jadi Kunci!
Daftar Pemain Amerika Serikat dan Paraguay di Grup D Piala Dunia 2026
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Daftar Pemain Kanada dan Bosnia Herzegovina di Grup B Piala Dunia 2026
