Logo JawaPos
Author avatar - Image
Penulis: Elly Delfia
Selasa, 27 Oktober 2026 | 23.13 WIB

Mengenal Iritan dalam Karhutla

Elly Delfia. (Dok. Pribadi) - Image

Elly Delfia. (Dok. Pribadi)

Oleh: Elly Delfia

DALAM perspektif analisis wacana kritis, teks tidak pernah netral, tetapi mengandung muatan tertentu. Muatan tersebut disebut sebagai konteks yang merupakan bagian integral dari praktik sosial yang mengandung relasi kuasa dan ideologi (Fairclough, 1989). 

Halliday (1979) menyebut teks sebagai wacana. Iritan merupakan salah satu istilah yang muncul karena karhutla yang merupakan akronim dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada vegetasi permukaan maupun lapisan organik di bawah permukaan tanah (dpi-pemadam.com).

Sebagai sesuatu yang tidak netral, wacana karhutla memunculkan relasi kuasa dan ideologi yang menggerakkan perilaku masyarakat. Salah satunya adalah untuk menghindari iritan yang memiliki relasi kuasa dan ideologi untuk menggerakkan dan mengubah tatanan sosial. Iritan pernah disinggung dalam artikel berjudul “Menakar Bahaya Kesehatan Kabut Asap: Ketika Api yang Jauh Tetap ‘Membakar’ Paru-Paru Kita” oleh Prof. Hardisman, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, bahwa Particulate Matter (PM2.5) tentu “tidak berubah menjadi virus atau bakteri”. Artinya, kabut asap bukan penyebab langsung ISPA, melainkan paparan partikulat dan bahan iritan dalam kabut asap yang mengiritasi saluran pernapasan”. 

Iritan adalah salah satu zat pemicu iritasi yang muncul karena kabut asap dalam kebakaran hutan dan lahan. Iritan tersebut berupa partikulat, gas hasil pembakaran, senyawa organik volatil, serta berbagai zat tambahan lain yang muncul ketika api membakar material tertentu (HArdisman, 2026).

Dalam bidang ilmu kesehatan, iritan merupakan segala sesuatu yang menyebabkan iritasi, seperti peradangan atau nyeri. Iritan tidak hanya bersifat kimiawi, tetapi juga bisa bersifat mekanis, termal, atau radiasi. Bahan kimia seperti kapsaisin dalam cabai, kain kasar, gesekan, panas atau dingin, dan radiasi ultraviolet (UV) adalah contoh iritan. Iritan biasanya memengaruhi kulit, mata, atau selaput lendir (https://forklarade.com/id).

Iritan yang muncul dari kabut asap bukan hanya mengiritasi pernapasan manusia, tetapi juga mempunyai relasi kuasa untuk mengubah tatanan sosial dalam bentuk diliburkannya sekolah-sekolah di Indonesia. Relasi kuasa tersebut berdampak pada bertambahnya pekerjaan orang tua karena harus mengurus pekerjaan rumah anak-anak mereka yang diberikan oleh guru, seperti mewarnai, menggambar, membuat video, dan membuat pekerjaan rumah lainnya. Orang tua berganti profesi menjadi “guru”. 

Anak-anak belajar melalui Zoom yang merupakan bentuk pembelajaran kurang efektif untuk anak-anak. Saraf sensorik mereka yang terlalu aktif dan tidak siap untuk duduk diam mendengarkan penjelasan guru di depan Zoom. Akibatnya, mereka tidak betah dan bosan di depan Zoom dan orang tua harus menggantikannya dengan mendengarkan penjelasan guru melalui Zoom. 

Iritan yang terkandung dalam kabut asap akibat karhutla bukanlah sebuah redundansi, melainkan fakta tidak terbantahkan bahwa iritan akibat kabut asap bukan wacana netral yang dapat diabaikan, melainkan penyebab sekolah-sekolah diliburkan dan penyebab penyakit ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) yang berbahaya yang mengubah kebiasaan (habit) dan tatanan sosial yang sudah mapan. 

Editor: Ilham Safutra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore