Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 September 2026 | 01.33 WIB

Investigasi, Insinuasi, dan Harga Sebuah Nama

Afriadi. - Image

Afriadi.

Oleh: Afriadi, Sarjana Filsafat Islam UIN Jakarta, Magister Ilmu Komunikasi STIKOM Inter-Studi

BELAKANGAN ini, publik semakin sering menemukan pemberitaan dan siniar yang mengatasnamakan kerja investigasi. Kontennya biasanya berangkat dari dugaan terhadap seseorang, kemudian menghubungkan sejumlah fakta, peristiwa, atau relasi tertentu untuk membangun sebuah cerita.

Namun, pertanyaan pentingnya adalah: apakah setiap pemberitaan yang mengangkat dugaan, menghubungkan berbagai fakta, dan menggunakan narasi investigatif benar-benar merupakan produk jurnalistik investigasi? Atau, jangan-jangan, sebagian di antaranya justru lebih dekat dengan praktik insinuasi?

Pertanyaan ini penting diajukan karena cara sebuah informasi disusun dapat memengaruhi persepsi publik. Fakta yang disampaikan mungkin saja benar, tetapi cara memilih, merangkai, dan menonjolkannya dapat membentuk kesan tertentu yang melampaui bukti yang tersedia.

Dalam konteks ini, perlu dibedakan antara investigasi dan insinuasi. Keduanya bisa sama-sama berangkat dari kecurigaan, tetapi memiliki orientasi dan proses yang berbeda.

Investigasi dan Insinuasi

Secara prinsip, investigasi tidak seharusnya berhenti pada kecurigaan. Dugaan awal memang dapat menjadi titik berangkat, tetapi dugaan tersebut harus diuji melalui proses pengumpulan dan pemeriksaan bukti.

Kerja investigasi menuntut jurnalis untuk mengumpulkan dokumen, menguji data, melakukan cek silang, meminta konfirmasi kepada pihak-pihak terkait, serta memberikan ruang untuk hak jawab. Proses tersebut harus dilakukan secara cermat agar kesimpulan yang dihasilkan tidak hanya bersandar pada asumsi atau hubungan yang bersifat spekulatif.

Dengan kata lain, investigasi berangkat dari dugaan, lalu bergerak menuju pembuktian. Fakta yang ditemukan seharusnya menjadi penentu arah pemberitaan, bukan sebaliknya, ketika fakta dipilih hanya untuk menguatkan dugaan yang sudah ditentukan sejak awal.

Sementara itu, insinuasi dapat dipahami sebagai konstruksi persepsi yang menggunakan fakta-fakta tertentu untuk mengarahkan publik pada sebuah dugaan, meskipun pembuktian yang memadai belum tersedia.

Dalam praktiknya, insinuasi tidak selalu hadir dalam bentuk tuduhan langsung. Ia dapat muncul melalui judul yang sugestif, pertanyaan retoris, pemilihan diksi yang mengandung prasangka, penghilangan konteks, atau penonjolan hubungan dan kebetulan tertentu.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore