
Dini Nastiti Wardani. (Dok. Pribadi)
MEMPERINGATI Hari Radio 11 September, tahun ini ada satu pertanyaan yang semakin relevan bagi industri penyiaran. Suara AI sudah semakin mirip suara manusia, apa yang masih membedakan seorang penyiar manusia dari penyiar berbasis AI?
Perkembangan kecerdasan buatan telah membuat suara sintetis semakin natural. Artikulasi, intonasi, tempo, hingga ekspresi emosional bisa dihasilkan sedemikian rupa, sehingga pendengar sulit membedakannya dari suara manusia.
Persoalan AI di radio kini bukan lagi semata-mata apakah suara AI terdengar seperti suara manusia Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah pendengar percaya kepada suara yang mereka dengar?
Sejumlah riset menunjukkan bahwa persepsi terhadap suara AI berkaitan erat dengan kepercayaan. Dalam sebuah studi terhadap pendengar radio, suara AI dan suara manusia dalam uji dengar buta bahkan memperoleh penilaian yang relatif berdekatan dalam aspek profesionalisme, kredibilitas, autentisitas, energi, dan daya tarik.
Sebagian pendengar juga mengira suara AI adalah suara manusia. Namun, ketika identitas suara tersebut diungkap sebagai AI, maka persepsi sebagian pendengar berubah.
Temuan ini menunjukkan satu hal penting, kepercayaan tidak hanya dibangun oleh kualitas suara. Pendengar juga mempertimbangkan siapa yang berada di balik suara tersebut, konteks, serta hubungan yang telah dibangun dengan media dan penyiar.
Di sinilah posisi penyiar manusia perlu didefinisikan kembali. Jika AI sudah mampu menghasilkan suara yang sangat natural, maka nilai pembeda seorang penyiar tidak lagi terletak pada kualitas vokalnya. Suara yang bagus tetap penting, tetapi suara bukan lagi satu-satunya keunggulan.
Pembeda sejati seorang penyiar ada pada apa yang berada di balik suara. Apakah itu pikiran, wawasan, kepekaan, dan kredibilitas.
Seorang penyiar manusia dapat memahami sebuah isu yang sedang hangat saat ini, berpikir kritis, menggali informasi, serta memilih siapa narasumber yang tepat dan menentukan pertanyaan yang tepat kepada narasumber. Penyiar dapat merespons situasi secara spontan, membaca suasana percakapan, mengubah arah pembicaraan ketika menemukan informasi baru, serta menunjukkan empati kepada orang yang sedang berbicara, seperti berita duka, bencana hingga berita yang menguras emosi lainnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Sadisnya Dwi Bagus Mutilasi Istri Siri dan Anak di Madiun, Jasad Dibakar dan Digiling
Bill Gates Puji AI Meta Milik Zuckerberg, Muse Dinilai Mampu Mengubah Cara Orang Bekerja
4 Keunggulan Introvert yang Kini Justru Diinginkan oleh Banyak Orang Pada Era Modern
Prediksi Skor Persib Bandung vs Melbourne Victory: Maung Bandung Menang di Si Jalak Harupat
Fariz Julinar Angkat Bicara Usai PSIS Semarang Raih Hasil Kurang Memuaskan Sepanjang Oktober
Prediksi Skor Parma vs Udinese: I Gialloblù Bidik Kemenangan demi Keluar Zona Degradasi
Prediksi Skor Daejeon Citizen vs Vissel Kobe di ACL Elite: Siapa yang Mampu Meraih Kemenangan
Fakta Sebenarnya A Day In My Life Kakak vs Adik yang Ramai di Media Sosial
Setelah Inggris, Jepang Minta Warga Siapkan Stok Kebutuhan Darurat hingga 7 Hari
Prediksi Skor Torino vs Como di Liga Italia: I Lariani Curi Kemenangan Tandang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022