
Dr. Listya Endang Artiani, S.E., M.Si.(Istimewa).
Oleh: Dr. Listya Endang Artiani S.E.,M.SI, Akademisi dan Pakar Ekonomi Universitas Islam Indonesia
Pasar keuangan sering kali berbicara lebih jujur daripada pidato para pejabat. Ketika rupiah menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat, pasar sesungguhnya sedang menyampaikan sebuah pesan penting bahwa kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia sedang benar-benar diuji. Nilai tukar bukan sekadar angka yang bergerak di layar perdagangan, namun ia merupakan refleksi kolektif dari ekspektasi investor, pelaku usaha, dan pasar global terhadap kondisi ekonomi suatu negara.
Data perdagangan menunjukkan bahwa pada 4 Juni 2026 rupiah melemah hingga mencapai Rp 18.040 per dolar AS. Angka tersebut bukan hanya menembus batas psikologis penting, tetapi juga menjadi salah satu level terlemah dalam sejarah nilai tukar Indonesia pasca-pandemi. Bagi sebagian kalangan pelemahan ini dianggap sebagai konsekuensi alami dari penguatan dolar AS secara global, tapi jika dicermati lebih dalam persoalan yang terjadi tidak sesederhana itu.
Memang benar bahwa dolar AS sedang berada dalam tren penguatan, suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi membuat aset-aset keuangan di negara tersebut semakin menarik bagi investor global. Yield obligasi pemerintah AS yang meningkat mendorong arus modal internasional kembali ke pasar keuangan Amerika. Fenomena ini dalam literatur ekonomi dikenal sebagai flight to quality, yaitu kecenderungan investor memindahkan dana dari aset yang dianggap berisiko menuju aset yang lebih aman ketika ketidakpastian meningkat.
Namun pertanyaannya, mengapa tekanan terhadap rupiah terlihat lebih besar dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya? Jawabannya terletak pada persepsi risiko yang melekat pada perekonomian domestik. Dalam dunia investasi modern, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu cukup untuk menarik modal. Investor tidak hanya membeli potensi keuntungan, tetapi juga membeli kepastian.
Indonesia sebenarnya masih mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat dibandingkan banyak negara lain. Konsumsi domestik tetap menjadi penopang utama aktivitas ekonomi, berbagai proyek pembangunan dan investasi hilirisasi juga terus berjalan. Akan tetapi pasar keuangan tidak hanya melihat angka pertumbuhan, pasar juga memperhatikan kualitas institusi, konsistensi kebijakan, keberlanjutan fiskal, serta kemampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang.
Pemikiran ekonom kelembagaan Douglass North menjelaskan bahwa institusi yang kuat menciptakan kepastian sehingga mampu menurunkan biaya transaksi dan meningkatkan kepercayaan pelaku ekonomi. Sebaliknya, ketika muncul ketidakpastian mengenai arah kebijakan, investor akan memasukkan premi risiko yang lebih tinggi ke dalam setiap keputusan investasinya. Akibatnya, tekanan terhadap pasar keuangan dan nilai tukar menjadi semakin besar.
Dalam beberapa bulan terakhir, investor global menghadapi berbagai sumber ketidakpastian dan ketegangan geopolitik dunia belum sepenuhnya mereda. Persaingan ekonomi antara Amerika Serikat dan Tiongkok masih berlangsung dan harga komoditas dunia bergerak fluktuatif. Pada saat yang sama, pasar juga mulai mencermati berbagai risiko domestik, mulai dari kebutuhan pembiayaan fiskal, prospek defisit anggaran, hingga keberlanjutan berbagai program pembangunan yang membutuhkan dana besar.
Situasi tersebut membuat investor melakukan kalkulasi ulang terhadap risiko investasi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketika risiko meningkat sementara imbal hasil dianggap belum cukup menarik, maka arus modal cenderung keluar. Sehingga, tekanan yang semakin besar terhadap rupiah pun menjadi sulit dihindari.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Lecce vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Imbang di Via del Mare

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022