
Dr. Listya Endang Artiani, S.E., M.Si.(Istimewa).
Oleh: Dr. Listya Endang Artiani, S.E., M.Si., Dosen dan Peneliti Universitas Islam Indonesia
SETELAH hampir delapan bulan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen sejak September 2025, Bank Indonesia (BI) akhirnya mengubah arah kebijakan moneternya. Pada 20 Mei 2026, BI menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Belum genap satu bulan, pada 9 Juni 2026, BI kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.
Dalam dunia kebijakan moneter, kenaikan total 25 basis poin dalam waktu kurang dari satu bulan bukanlah langkah yang lazim. Perubahan yang begitu cepat menunjukkan bahwa otoritas moneter sedang merespons situasi yang dianggap luar biasa.
Pertanyaannya, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Jawabannya tidak terletak pada inflasi domestik semata, melainkan pada kombinasi tekanan eksternal, pelemahan nilai tukar Rupiah, dan meningkatnya ketidakpastian global.
Sejak 4 Juni lalu, Rupiah mengalami depresiasi hingga menembus level psikologis lebih dari Rp18.000 per dolar AS. Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin hanya terlihat sebagai statistik pasar keuangan. Namun bagi bank sentral, pelemahan nilai tukar yang berlebihan dapat menjadi pintu masuk berbagai risiko makroekonomi yang lebih luas.
Dalam perspektif Open Economy Macroeconomics yang dikembangkan oleh Robert Mundell dan Marcus Fleming, negara dengan sistem nilai tukar mengambang seperti Indonesia tidak dapat sepenuhnya mengisolasi dirinya dari gejolak global.
Arus modal internasional yang bergerak sangat cepat membuat perubahan sentimen investor global dapat langsung memengaruhi nilai tukar dan stabilitas pasar keuangan domestik. Ketika investor menarik dana dari negara berkembang menuju aset yang dianggap lebih aman, tekanan terhadap mata uang domestik menjadi hampir tidak terhindarkan.
Di sinilah relevansi konsep Impossible Trinity atau Trilemma yang diperkenalkan Mundell semakin terlihat. Teori ini menjelaskan bahwa suatu negara tidak dapat secara bersamaan memiliki tiga tujuan sekaligus berupa kebijakan moneter independen, nilai tukar yang stabil, dan mobilitas modal internasional yang bebas.
Indonesia memilih mempertahankan independensi kebijakan moneter sekaligus membuka arus modal internasional. Konsekuensinya, nilai tukar harus menjadi variabel yang paling fleksibel menyesuaikan tekanan eksternal.
Namun fleksibilitas nilai tukar memiliki batas. Ketika depresiasi berlangsung terlalu cepat, bank sentral perlu melakukan intervensi kebijakan untuk mencegah terjadinya ketidakstabilan yang lebih luas. Kenaikan BI Rate dalam konteks ini merupakan instrumen untuk memperkuat daya tarik aset Rupiah dan menahan tekanan keluar modal asing.

Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Hasil Norwegia vs Inggris 1-2 di Piala Dunia 2026: Brace Jude Bellingham Bawa The Three Lions ke Semifinal
Prediksi Argentina vs Inggris di Piala Dunia: Messi Ungkap Jalan Terjal ke Semifinal, Singgung Duel Panas Lawan Three Lions pada 1986
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Beri Nafkah Kecil ke Fangfang, Vicky Prasetyo: Dari Awal Kamu Tahu Saya Punya Anak Banyak
Tragis! Gadis 13 Tahun di India Diperkosa 30 Pria Selama 5 Hari, Para Tersangka Diarak Warga
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Vicky Prasetyo Menunggu Detak Jantung Janin Sebelum Nikahi Fangfang Secara Siri
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Sesi Foto Bersama di Pemakaman Komedian Temon Terbelah Jadi 2 Kubu
