Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 10 Juli 2018 | 22.23 WIB

Soal Capres, PKS, Gerindra, dan Demokrat Belum Satu Suara

Koalisi goyang: Presiden PKS Sohibul Iman bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Sekjen PAN Edy Suparno. - Image

Koalisi goyang: Presiden PKS Sohibul Iman bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Sekjen PAN Edy Suparno.

JawaPos.com - Sebulan lagi pendaftaran bakal calon presiden-wakil presiden (capres-cawapres) dibuka. Namun, hingga kini, baru nama Joko Widodo (Jokowi) yang terus berkibar. Parpol-parpol yang tidak bergabung dalam koalisi pendukung Jokowi tak kunjung menyepakati sosok yang akan diusung. Bahkan, nama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang disebut-sebut sebagai calon penantang kuat Jokowi ternyata belum pasti. Sebab, sejumlah parpol masih memunculkan figur lain.


Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) M. Sohibul Iman menilai, penentuan figur capres-cawapres bisa muncul pada saat-saat akhir masa pendaftaran. Sebab, sejumlah partai di luar pendukung Jokowi masih hilir mudik melakukan komunikasi.


Sohibul lantas menyebut petinggi Partai Demokrat yang masih melakukan pendekatan ke Prabowo. Namun, dia menyebut komunikasi serupa tidak hanya dilakukan dengan Partai Gerindra. "Sebelum dengan Gerindra, sudah ke PKS dulu. Kami sering komunikasi, gak perlu gembar-gembor. Kan sudah seperti saudara," kata Sohibul di kantor DPP PKS kemarin (9/7).


Dia juga angkat bicara terkait peluang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam pilpres. Menurut dia, perjuangan PKS bersama koalisi dalam memenangkan Anies di pilgub DKI membutuhkan usaha yang luar biasa. Posisi Anies saat ini, lanjut Sohibul, sama dengan pejabat pemerintah pusat.


"DKI 1 (gubernur, Red) itu sama dengan RI 3, bahkan RI 2 (wakil presiden, Red)," kata Sohibul. Karena itu, jika Anies harus diterjunkan pada kontestasi nasional, tentu hitung-hitungannya masih spekulatif.


"Kalau sudah gubernur DKI, diajak spekulatif, ini tidak logis. Kami ingin Pak Anies tetap di DKI," ujarnya. Namun, jika dipaksa, Sohibul mendorong Anies ditempatkan sebagai capres. "Kenapa capres, kalau (maju) cawapres, ya sama dengan (jabatan) sekarang," tegasnya.


Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menyatakan bahwa partainya tetap ingin mengusung Prabowo sebagai capres. Fadli menepis anggapan bahwa Prabowo telah legawa untuk memberikan mandat capres kepada Anies. "(Anies) sebagai capres saya kira nggak ada pembicaraan itu. Kalau sebagai cawapres memang ada yang mengusulkan," katanya.


Fadli menyebut, keputusan mengajukan Prabowo sebagai capres merupakan keputusan rapimnas Partai Gerindra. Upaya yang dilakukan Partai Gerindra saat ini adalah melakukan komunikasi dengan mitra koalisi untuk membahas potensi cawapres pendamping Prabowo.


PAN yang pada rakernas tahun lalu resmi mengusung Zulkifli Hasan sebagai capres ternyata juga melihat sosok Anies sebagai capres alternatif. Wakil Ketua Umum PAN Ahmad Hanafi Rais menyebut bahwa sosok Anies memiliki popularitas tinggi. "Secara informal dengan kader dan teman-teman di daerah selama reses kemarin memang Pak Anies paling disukai sebagai capres atau cawapres," kata Hanafi.


Dia merasa tidak masalah apabila Anies yang juga mendapat sokongan PKS maju sebagai capres menggantikan posisi Prabowo. Meski begitu, komunikasi tentu harus dilakukan untuk memastikan hal itu. "Biarlah proses politik resmi ini berlanjut. Saya kira nanti pada saatnya akhir bulan atau awal Agustus kami akan memutuskan," ucapnya.


Kemarin Majelis Tinggi Partai Demokrat menggelar pertemuan di rumah sang Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di kawasan Mega Kuningan. Rapat yang dipimpin SBY itu berlangsung sekitar tiga jam. Max Sopacua, anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat, mengungkapkan, pihaknya baru melakukan pertemuan awal soal capres-cawapres. Rapat belum membahas arah koalasi. "Masih penjajakan," terangnya setelah pertemuan. Terkait koalisi dengan Partai Gerindra dan menyandingkan Prabowo dengan AHY, kemungkinan koalisi itu belum dibahas. Partainya baru saling melihat dan mengenal dengan Partai Gerindra.


Majelis tinggi, lanjut dia, juga belum membahas peluang poros ketiga. Sebab, sampai sekarang Jokowi belum memutuskan cawapresnya, begitu juga Prabowo. Terkait nama AHY, Max mengatakan, partainya mempunyai obsesi mengusung AHY sebagai cawapres. Namun, obsesi itu tidak ditentukan sendiri oleh partainya. Harus melihat situasi yang berkembang di masyarakat. Tentu, Partai Demokrat akan membicarakan dengan partai koalisi terkait peluang AHY sebagai cawapres.


Sementara itu, nama cawapres Jokowi sampai sekarang masih ditutup rapat-rapat. Nama cawapres pada Pemilu 2019 sudah berada di kantong mantan gubernur DKI Jakarta itu. Tinggal menunggu pengumuman ke publik. Sosok cawapres disampaikan Jokowi ketika bertemu Ketua Umum PDI Perjuangan di Istana Batu Tulis, Bogor, Minggu malam lalu (8/7). "Pendamping Pak Jokowi dibahas antarbeliau berdua," terang Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore