
Rocky Prasetyo Jati dalam Sidang Promosi Doktor di Auditorium Juwono Sudarsono Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Indonesia, Depok
JawaPos.com - Di era digital dan media sosial, komunitas budaya perlu memiliki strategi kreatif dan adaptif dalam mengembangkan media komunitasnya. Langkah tersebut juga disertai dengan pengelolaan teknologi berbasis internet serta didukung beragam media sosial. Komitmen itu dilakukan komunitas budaya lokal Bali Buja di Klaten Jawa Tengah.
Bali Buja adalah singkatan dari Paguyuban Peduli Budaya Jawa. Mereka bertekad untuk mempertahankan kearifan lokal melalui media sosial.
Penelitian dilakukan oleh Rocky Prasetyo Jati. Ia memaparkan hasil penelitiannya dalam Sidang Promosi Doktor di Auditorium Juwono Sudarsono Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Indonesia, Depok pada pada Rabu (21/12). Dalam sidang tersebut Rocky berhasil mempertahankan disertasinya dan mendapatkan gelar Doktor di bidang Ilmu Komunikasi.
Rocky meneliti pemanfaatan media sosial pada komunitas budaya lokal. Menurutnya, keberadaan komunitas budaya merupakan bentuk pergerakan masyarakat yang secara kooperatif mempertahankan identitas suatu bangsa.
Dalam perjalanannya komunitas budaya Bali Buja berupaya mempertahankan kebudayaan lokal melalui penggunaan media komunitas berbasis teknologi media, khususnya melalui praktik kesenian. Ketertarikan Rocky terhadap komunitas Bali Buja diawali dari pengamatan terhadap karakteristik unik yang dibangun oleh Bali Buja.
Sepanjang pengamatan penelitian sejak tahun 2018, penggunaan teknologi media berbasis internet yang dilakukan oleh seniman di sekitar Jawa Tengah-ataupun Jogjakarta (daerah yang memiliki kedekatan secara geografis dengan Klaten), masih belum begitu banyak dimanfaatkan oleh komunitas seniman Penelitian ini menyajikan gambaran eksistensi yang dilakukan komunitas budaya dalam mengelola pertunjukan seni dan budaya sebagai implementasi pelestarian nilai kearifan lokal di era digital.
"Bagaimana mereka, melalui upaya kerja sama, mereka terus berkesenian untuk berbagi nilai-nilai kearifan lokal, berbagi makna berkehidupan yang telah menjadi tradisi,” papar Rocky.
Rocky menambahkan, ia juga mengeksplorasi bagaimana media komunitas menghadapi media arus utama yang menolak kemasan lokal guna melakukan usaha-usaha komodifikasi budaya. Penolakan media arus utama terhadap kemasan lokal dapat diindikasikan melalui bagaimana media arus utama tidak memberikan ruang lebih luas bagi komunitas budaya untuk menampilkan pertunjukan budaya tradisional dengan kekhasan lokalitas.
Disertasi tersebut, kata dia, memberikan gambaran umum mengenai studi tentang media komunitas pada komunitas budaya di era digital. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berpotensi mendorong industri kesenian tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi inovasi pelestarian budaya lokal oleh komunitas budaya. Secara umum, TIK diyakini dapat memperluas akses publik serta peluang bagi komunitas budaya dalam berbagi ekspresi kesenian.
“Penelitian ini menemukan bahwa ruang publik yang dibentuk melalui media baru adalah jalur inovasi media komunitas. Ruang publik yang hadir melalui teknologi digital adalah potensi bagi komunitas untuk lebih mudah berekspresi,” ungkap Rocky.
Kontribusi penelitian ini telah mengonfirmasi bahwa misi ketahanan budaya akan mampu diupayakan ketika terjadi partisipasi masyarakat yang memiliki kepedulian yang sama, motivasi untuk melahirkan inovasi, komitmen serta konsistensi antar anggota komunitas termasuk di dalamnya aktor sosial. Seperti bagian dari studi, penelitian ini juga menyoroti pentingnya interaksi antara media komunitas dengan budaya lokal.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa media komunitas mendapatkan dukungan masyarakat yang besar. Ini dibuktikan dengan keterlibatan aktor sosial, relawan, dan anggota masyarakat yang peduli untuk memproduksi konten-konten seni dan budaya.
Sebagai Promotor pada sidang tersebut adalah Dr. Donna Asteria, S.Sos, M.Hum dan ko-promotor Endah Triastuti, Ph.D serta dewan penguji, Prof. Dr. Fredy Buhama Lumban Tobing, M.Si, Prof. Dr. Billy K Sarwono, Dr. Hendriyani, Dr. Linda Darmajanti, Inaya Rakhmani Ph.D, Mario Anton Birowo, Ph.D, Dr. Iwan Gunawan.
Penelitian dalam disertasi ini menggunakan model konsep media hiperlokal. Sebuah model media yang berdasarkan penelitian terdahulu lebih banyak digunakan atau diterapkan dalam media-media komunitas atau media lokal berbasis konten jurnalistik.
"Media hiperlokal inilah yang kemudian menjadi pertimbangan model pengembangan media baru bagi komunitas budaya,” tutup Rocky yang merupakan pengajar Fakultas Komunikasi & Desain Kreatif (FKDK) Universitas Budi Luhur Jakarta.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
