
Pipit Nurvina. (Dok. Pribadi)
Oleh: Pipit Nurvina, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie, Direktur SMTV
BAYANGKAN sebuah tim televisi lokal bergegas meliput peristiwa di lapangan. Kamera disiapkan, narasumber dicari, gambar diambil. Namun ketika berita itu siap ditayangkan, publik sudah lebih dulu mengetahuinya. Video amatir dari warga telah beredar luas di grup WhatsApp, TikTok, dan Instagram. Informasi sudah viral dan liputan televisi menjadi terasa terlambat.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan kecepatan. Ia menandai perubahan mendasar dalam cara realitas diproduksi dan dikonsumsi. Dalam perspektif Deep Mediatization (Hepp) masyarakat hari ini tidak lagi menunggu media untuk menjadikan suatu peristiwa sebagai “berita”. Realitas sosial telah lebih dulu dimediasi oleh jaringan digital yang saling terhubung, di mana setiap individu dapat menjadi produsen sekaligus distributor informasi.Di titik ini, televisi lokal menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar persaingan platform.
Data dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan berjam-jam setiap hari di media sosial. Platform seperti TikTok, YouTube, dan Instagram kini menjadi pintu utama dalam mengakses informasi dan hiburan. Televisi tidak lagi menjadi rujukan pertama.Lebih dari itu, publik tidak hanya mengonsumsi informasi namun mereka memproduksinya.
Dengan smartphone di tangan, warga mampu merekam, mengedit, dan menyebarkan peristiwa dalam hitungan menit. Dalam kerangka deep mediatization, ini berarti Produksi realitas tidak lagi dimonopoli institusi media, Distribusi informasi berlangsung secara horizontal, dan Otoritas jurnalistik menjadi terfragmentasi.
Televisi lokal, yang sebelumnya berperan sebagai gatekeeper, kini sering kali hanya menjadi “pengikut” dari arus informasi yang sudah terbentuk di media sosial.Masalahnya tidak berhenti pada kecepatan. Media sosial membawa “logika” baru: viralitas, sensasionalitas, dan algoritma. Konten yang naik bukan yang paling akurat, tetapi yang paling menarik perhatian.Dalam kondisi ini, televisi lokal berada dalam tekanan ganda, yaitu mengikuti logika jurnalistik (akurasi, verifikasi, etika)dan sekaligus beradaptasi dengan logika platform (cepat, menarik, viral).
Akibatnya, ruang redaksi mengalami pergeseran orientasi. Pemilihan isu, gaya penyajian, hingga format konten mulai dipengaruhi oleh tren digital. Televisi tidak lagi sepenuhnya menentukan agenda, melainkan merespons agenda yang sudah dibentuk oleh media sosial.
Jika media sosial mengubah ekosistem eksternal, maka kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah struktur internal media.Di banyak ruang redaksi, AI telah digunakan untuk transkripsi otomatis wawancara, penulisan berita dasar, analisis tren audien dan bagaimana mengoptimalisasi distribusi konten.
Dalam perspektif deep mediatization, ini adalah bentuk otomatisasi komunikasi. Produksi berita tidak lagi sepenuhnya bergantung pada manusia, tetapi juga pada sistem algoritmik.Dampaknya jelas terlihat dari biaya produksi lebih efisien, proses kerja lebih cepatdan keputusan editorial mulai berbasis data.
Namun ada sisi lain yang perlu diwaspadai. Ketika terlalu bergantung pada AI, media berisiko kehilangan dimensi humanisnya, yakni kedekatan dengan komunitas, sensitivitas sosial, dan pemahaman kontekstual yang tidak selalu bisa diterjemahkan menjadi data.Di tengah tekanan dari media sosial dan AI, televisi lokal memang tidak unggul dalam kecepatan. Warga yang berada langsung di lokasi kejadian akan selalu lebih cepat.Namun kecepatan bukan satu-satunya nilai dalam jurnalisme.Konten yang beredar di media sosial kerap minim verifikasi, yang terkadang lepas konteks, rentan manipulasi, serta tidak tunduk pada kode etik.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
