Upaya FIK-UI Menyiapkan Lulusan Keperawatan Yang Penuh Pengalaman

17 Maret 2023, 19:43:56 WIB

JawaPos.com – Peran tenaga kesehatan (nakes) saat menghadapi pandemi Covid-19 sangat krusial. Apalagi ketika itu kondisi sangat genting.

Sepanjang 2020-2021, kala Covid-19 mengganas dan banyak memakan korban, para perawat bahu-membahu untuk membantu. Mereka menjadi garda terdepan di rumah sakit memberikan penanganan. Tidak hanya itu, para mahasiswa profesi Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia pun ambil bagian.

“Saat itu mahasiswa profesi dikerahkan untuk membantu penanganan Covid,” ujar Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK-UI) Agus Setiawan kepada JawaPos.com, Selasa (14/3).

Agus bercerita, ketika pandemi covid-19 seluruh sumber daya dikerahkan untuk membantu perawatan pasien yang membeludak di rumah sakit. Perawat yang dikerahkan termasuk para mahasiswa profesi keperawatan. Mereka hadir menjadi relawan di beberapa rumah sakit, termasuk di RS UI. Ketika membantu pasien, tidak sedikit pula mahasiswa keprofesian keperawatan juga terpapar Covid-19. “Tapi mereka alhamdulilah survive dan mendapatkan pengalaman yang luar biasa,” kata Agus.

Menurut Agus, terpapar Covid-19 adalah risiko yang tidak bisa dihindarkan. Pasalnya dalam kasus penyakit-penyakit menular, perawat merupakan bagian yang paling rentan terpapar.

“Peran perawat sangat sentral dalam penanganan Covid-19 karena yang paling mereka banyak berinteraksi dengan pasien. Perawat 24 jam,” jelas Agus.

Meski begitu, Agus sangat bersyukur atas kontribusi para mahasiswa keperawatan yang menjadi relawan dalam menangani Covid-19. Hingga kini pandemi pun sudah berakhir dan penyakit karena virus korona sudah mulai melandai.

Siapkan Mahasiswa Berdaya Saing Tinggi

Dalam menempa para calon perawat profesional, FIK-UI memang menyiapkan para lulusan agar memiliki daya saing tinggi. Hal itu, dapat dilihat dari ketatnya kualifikasi mahasiswa yang diterima di FIK-UI. “Tentu mahasiswa yang masuk ke FIK-UI ini sangat selektif ya. Ketetatannya lumayan tinggi dibandingkan prodi yang lain,” ungkapnya.

“Jadi boleh dikatakan mahasiswa yang masuk juga mahasiswa-mahasiswa yang unggul,” sambung Agus.

Menariknya lagi, di FIK-UI ini para mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa. Alasannya, setamat dari FIK-UI nanti, para lulusan bisa berkarier di luar negeri. “Negara maju saat ini mengalami kekurangan tenaga kesehatan. Diharapkan lulusan kita (UI) siap untuk kerja di mana aja,” tegas Agus.

Dengan pendidikan ilmu keperawatan yang minimal strata 1 dan akreditasi yang unggul di tingkat nasional dan internasional, Agus yakin bahwa lulusannya mampu untuk bekerja di luar negeri.

Hingga kini, alumni FIK-UI sudah melanglang buana ke Amerika Serikat (AS), Timur Tengah, hingga Australia. “Ada yang di Australia. Sekarang sudah bagus kariernya. Bahkan sudah menjadi permanen resident,” terangnya.

Untuk menunjang semua kebutuhan tersebut, FIK-UI sebagai tempat menempa calon-calon perawat profesional pun menghadirkan para dosen berkualitas dan berstandar tinggi. Umumnya dosen di FIK-UI lulusan S-3 3 dan dibekali pengalaman keperawatan yang mumpuni.

“Kalau untuk dosen dia harus ada pengalaman klinik minimal dua tahun. Dan kita sekarang dengan RSUI itu sudah seperti dua keping mata uang. Dosen kami sebagian bekerja di RSUI,” jelas Agus Setiawan yang juga ketua umum Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) itu.

Mahasiswa Harus Capai 5 Kompetensi

FIK-UI memiliki target terhadap para lulusannya. Para mahasiswa saat lulus harus memiliki limia kompetensi dasar. “Yang pertama sebagai pemberi pelayanan langsung ke pasien, keluarga, ke masyarakat,” katanya.

“Yang kedua diharapkan dia juga sebagai communicator dengan disiplin tim nakes yang lain, pasien, dengan keluarga, komunitas, dengan masyarakat,” sambung Agus

Ketiga, mahasiswa diharapkan menjadi leader dan manager di kariernya. Keempat, sebagai health educator yang memberikan pendidikan kesehatan.

“Karena pada setiap pelayanan kesehatan ada asuhan-asuhan keperawatan. Jadi ada intervensi keperawatan yang diberikan itu harus ada unsur pendidikan kesehatannya,” ucap Agus.

“Dan yang terakhir sebagai peneliti. Karena dalam level nurse ini kan dia sudah melewati level sarjana,” pungkasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : Tazkia Royyan Hikmatiar, ARM

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads