Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 Agustus 2020 | 20.21 WIB

SMA-SMK di Jatim Uji Coba Masuk Sekolah 18–31 Agustus

Sejumlah siswa mengikuti belajar secara daring di Kelurahan Jatirahayu, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (29/7/2020). Kelurahan tersebut menyediakan fasilitas WiFi untuk siswa-siswi sekolah yang terkendala sistem belajar secara daring.--Foto: Imam Husein/Jawa Pos - Image

Sejumlah siswa mengikuti belajar secara daring di Kelurahan Jatirahayu, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (29/7/2020). Kelurahan tersebut menyediakan fasilitas WiFi untuk siswa-siswi sekolah yang terkendala sistem belajar secara daring.--Foto: Imam Husein/Jawa Pos

JawaPos.com - Para siswa SMA dan SMK di Jawa Timur harus siap-siap kembali masuk sekolah. Terutama yang sekolahnya berada di zona kuning dan oranye. Pemprov Jatim akan mengadakan uji coba pembelajaran tatap muka mulai 18 hingga 31 Agustus.

Rencana itu tertuang dalam Surat Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa Nomor 420/11350/101.1/2020 yang ditujukan kepada para kepala daerah di Jatim. Ada enam poin yang disampaikan.

Intinya, pembelajaran tatap muka dilaksanakan dengan ketentuan protokol kesehatan. ’’Ini untuk menjaga marwah pendidikan agar tetap positif dan tidak memicu munculnya kasus baru,’’ ucap Khofifah.

Uji coba yang berlangsung dua pekan itu akan dipantau dari waktu ke waktu. Pada akhir Agustus, pemprov akan mengevaluasinya. ’’Dari hasil evaluasi itu, kami akan menentukan kebijakan selanjutnya,’’ ucapnya.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Wahid Wahyudi menegaskan, uji coba pembelajaran tatap muka hanya diperuntukkan zona kuning dan oranye. Di setiap daerah hanya ada tiga sekolah yang mengikuti uji coba. Yakni, SMA, SMK, dan sekolah luar biasa (SLB). ’’Sekolah yang ditunjuk harus tetap berkoordinasi dengan satgas Covid-19 setempat,’’ katanya.


Ada beberapa ketentuan yang harus dilakukan sekolah. Di antaranya, sekolah harus memastikan semua ruangan steril. Sekolah wajib menyemprotkan disinfektan ke semua ruangan.

Sekolah juga wajib menyediakan tempat cuci tangan dan thermo gun.

Pelaksanaan pembelajaran juga diatur. Dalam kondisi normal, satu kelas biasanya diisi 36 siswa. Saat uji coba nanti, sekolah di zona oranye hanya boleh diisi 25 persen dari jumlah siswa. ’’Artinya, hanya 9 siswa,’’ jelas Wahid. Siswa yang tidak ikut pembelajaran tatap muka diminta mengikuti dari rumah. Karena itu, Wahid meminta sekolah tetap menyiapkan metode pembelajaran jarak jauh. Untuk sekolah di zona kuning, kapasitas kelas hanya 50 persen. Artinya, ada 18 siswa yang boleh mengikuti pembelajaran tatap muka.

Selama kegiatan belajar-mengajar, guru hanya diam di tempat. Tidak boleh berkeliling. Itu dilakukan untuk menjaga jarak antara guru dan siswa. Wahid juga berharap sekolah menyiapkan perangkat kaca atau mika di setiap meja siswa. ’’Dengan begitu, standar protokol kesehatan lebih terjamin,’’ imbuh dia.

Untuk menyiapkan program tersebut, pemerintah menggelar rapid test kepada guru sekolah.



Uji Klinis Kombinasi Obat Unair

Sementara itu, tim peneliti Universitas Airlangga (Unair) telah menuntaskan uji klinis dari hasil temuan kombinasi obat untuk Covid-19. Kombinasi obat tersebut telah diuji klinis kepada 700 lebih pasien Covid-19. Jumlah target uji klinis itu telah melampaui target yang ditetapkan BPOM.

’’BPOM mensyaratkan uji klinis dilakukan kepada 600-an pasien. Kami telah lebih dari target hingga 700-an pasien,’’ kata Rektor Unair Prof Mohammad Nasih kepada Jawa Pos kemarin (10/8).

Sebelumnya, Unair memublikasikan lima kombinasi obat yang dinilai memiliki potensi untuk menangani pasien Covid-19. Yakni, kombinasi obat lopinavir/ritonavir dengan azithromycin, lopinavir/ritonavir dengan doxycycline, lopinavir/ritonavir dengan chlaritromycine, hydroxychloroquine dengan azithromycin, dan hydroxychloroquine dengan doxycycline.

Nasih mengatakan, dari lima kombinasi obat itu, ada tiga yang diuji klinis. Yakni, lopinavir/ritonavir dengan azithromycin, lopinavir/ritonavir dengan doxycycline, dan hydroxychloroquine dengan doxycycline. Tiga kombinasi obat itu dianggap paling potensial.

Nasih menuturkan, sejatinya sampel yang diuji klinis lebih dari 1.200 pasien. Namun, BPOM memiliki syarat inklusivitas terkait sampel untuk uji klinis. Jadi, tidak semua sampel memenuhi syarat. Contohnya, ada orang tanpa gejala (OTG) dan pasien Covid-19 yang berat hingga menggunakan alat bantu pernapasan (respirator).

’’Yang seperti itu tidak memenuhi kriteria. Jadi, tidak boleh digunakan untuk uji klinis. Syaratnya, pasien dalam kondisi ringan, sedang, dan berat tanpa respirator,’’ kata guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unair tersebut.

Nasih menegaskan, 700-an pasien yang diuji klinis telah memenuhi kriteria inklusivitas yang disyaratkan BPOM. Uji klinis itu juga melibatkan 13 multisenter. Yang menjadi leader-nya adalah Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA). Kemudian, ditambah rumah sakit yang menyebar di berbagai kabupaten/kota. Mulai Lamongan, Kediri, hingga Bandung.

’’Tidak hanya di RSUA. Ada rumah sakit lain yang jadi tempat uji klinis kombinasi obat untuk Covid-19 temuan Unair,’’ jelasnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=6l3ne-DM0_s

 

https://www.youtube.com/watch?v=twli-5UK2AM

 

https://www.youtube.com/watch?v=Nq-BJdrwKNo

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore