Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 September 2026 | 18.33 WIB

El Nino Terjadi Pada 50 Ribu Hektare Lahan, Berikut Deretan Inovasi Yang Disiapkan Kementan

SAWAH KERING: Fenomena El Nino berdampak rendahnya curah hujan hingga mengakibatkan kekeringan. (NUR CAHYONO/JAWA POS RADAR PACITAN) - Image

SAWAH KERING: Fenomena El Nino berdampak rendahnya curah hujan hingga mengakibatkan kekeringan. (NUR CAHYONO/JAWA POS RADAR PACITAN)

JawaPos.com – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap dampak El Nino terhadap lahan pertanian di sejumlah wilayah Indonesia. Puluhan ribu hektare lahan diperkirakan terdampak kekeringan.

“Kekeringan yang masuk mungkin sekarang ya estimasi 50 ribuan hektare terdampak," kata Amran saat ditemui wartawan di Kementan, Senin (14/9). Meski demikian, Amran memastikan kondisi tersebut belum mengganggu ketersediaan pangan nasional. Amran menyebut produksi beras masih berada dalam kondisi aman berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

Menurut Amran lahan yang terdampak kekeringan terutama berada di daerah upland atau wilayah dataran tinggi. Kondisi tersebut terjadi baik di Pulau Jawa maupun luar Jawa.“Solusinya adalah kita pompanisasi, kemudian irigasi, irpom (irigasi pompa),” ujar Amran.

Amran mengatakan Kementan kini memprioritaskan penanaman di daerah yang memiliki jaringan irigasi. Pemerintah juga akan memaksimalkan lahan yang sistem irigasinya telah diperbaiki. “Jadi gini, dengan El Nino sekarang, kita fokus tanami daerah irigasi. Yang sudah kita perbaiki irigasi, totalnya semua 3 sampai 4 juta hektare,” jelasnya.

Selain mengandalkan irigasi, Kementan menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga produktivitas tanaman di tengah kondisi kering. Salah satunya dengan menggunakan benih yang lebih tahan terhadap kekeringan. “Yang kedua, metode baru, yang produksinya bisa 10 ton, 12 ton, metode AAS. Nah ini ternyata alhamdulillah berhasil. Ada 9 ton, paling rendah 8 ton, tapi ada 13 ton. Kita katakan rata-rata 10 ton. Itu bisa dua kali lipat,” tuturnya.

Pemerintah juga menyiapkan pompa bagi wilayah yang masih memiliki sumber air. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga tanaman tetap mendapatkan pasokan air selama periode kekeringan. “Nah, jadi insyaallah hitungan kita aman,” kata Amran.

Amran mengatakan keyakinan pemerintah terhadap kondisi pangan nasional juga didasarkan pada perhitungan stok dan produksi yang tersedia. Dia menyebut terdapat sekitar 3,8 juta hektare standing crop atau tanaman yang masih berdiri dan sedang dalam proses produksi. Selain itu, stok beras juga tersebar di berbagai titik, termasuk hotel, restoran, rumah tangga, dan Bulog.

Standing crop ada kurang lebih tiga hampir 4 juta, 3,8 juta. Standing crop artinya yang tanaman berdiri sekarang. Kemudian, ada beras di hotel, horeka, hotel, restoran, eee dan rumah-rumah seluruh Indonesia. Nah, kemudian juga ada di Bulog. Totalnya 26 juta,” ujarnya.

Dengan tingkat konsumsi sekitar 2,6 juta per bulan, Amran memperkirakan ketersediaan tersebut mampu menopang kebutuhan hingga beberapa bulan ke depan sebelum memasuki periode panen berikutnya. “Kita hitung. Kalau 2,6 juta per bulan, berarti 10 bulan kan? 10 bulan ke depan, sekarang September ya? Oktober, November, Desember, Januari, Februari. Panen puncak di Maret lagi. Jadi aman,” jelasnya.

Editor: Diar Candra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore