Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 11 September 2026 | 06.30 WIB

15 TPA Terbakar Sepanjang 2026, WALHI Soroti Ancaman Metana dan Polusi Udara

Tim Gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur. (BNPB) - Image

Tim Gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur. (BNPB)

JawaPos.com - Persoalan lingkungan di Indonesia kembali menjadi sorotan. Selain kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah, kebakaran juga berulang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah. Kondisi tersebut dinilai tidak hanya menimbulkan kerugian lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat akibat paparan asap dan polutan berbahaya.

Pengampanye Urban Berkeadilan WALHI Nasional, Wahyu Eka Styawan, mengatakan sedikitnya 15 TPA dilaporkan terbakar sepanjang 2026. Sejumlah lokasi yang terdampak antara lain TPA Telaga Punggur di Batam, Jatiwaringin Tangerang, Pakusari Jember, Cipayung Depok, Sumur Batu Bekasi, Cikolotok Purwakarta, Benowo Surabaya, Dengung Lebak, Troketon Klaten, Malabar Cilacap, TPA Kota Sorong, Ciniru Kuningan, Nangkaleah Tasikmalaya, hingga Putri Cempo Solo.

Menurut Wahyu, rangkaian kebakaran tersebut tidak dapat dilihat sebagai kejadian yang berdiri sendiri. Kondisi itu berkaitan dengan persoalan tata kelola sampah yang belum tertangani secara optimal dan semakin diperparah oleh kondisi kemarau panjang.

Persoalan lainnya adalah peningkatan emisi metana yang berasal dari timbunan sampah. Berdasarkan simulasi terbaru WALHI, emisi gas metana dari TPA di Indonesia berpotensi terus meningkat dan bahkan dapat mencapai dua kali lipat dalam 25 tahun mendatang apabila tidak dilakukan perubahan mendasar dalam sistem pengelolaan sampah.

Perhitungan tersebut menggunakan metode First Order Decay (FOD) yang mengacu pada Pedoman IPCC 2006. Data timbulan dan komposisi sampah dari 512 kabupaten/kota selama periode 2020-2025 turut digunakan dalam simulasi tersebut. Hasilnya, emisi metana bersih dari TPA secara nasional diperkirakan mencapai sekitar 334.109 ton pada 2025 atau setara dengan 9,02 juta ton CO2e.

“Yang perlu dipahami, kenaikan emisi ini tidak hanya dipengaruhi oleh sampah yang baru masuk ke TPA. Sampah yang telah ditimbun selama bertahun-tahun tetap membusuk dan menghasilkan metana. Ini merupakan ‘utang metana’ yang akan terus dilepaskan ke atmosfer meskipun volume sampah yang masuk berkurang,” kata Wahyu dalam keterangannya, Kamis (10/9).

Risiko kebakaran semakin tinggi karena masih banyak TPA di Indonesia yang menerapkan sistem open dumping. WALHI mencatat sekitar 60,7 persen atau 312 TPA masih menggunakan metode tersebut, yakni menumpuk sampah secara terbuka tanpa sistem pengelolaan gas yang memadai.

Tumpukan sampah, khususnya material organik, dapat menghasilkan metana ketika mengalami proses pembusukan. Dalam kondisi kemarau panjang, gas tersebut dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran. Api di TPA juga cenderung sulit dipadamkan karena dapat membara di bagian bawah timbunan sampah.

“Artinya, kebakaran TPA yang terjadi sepanjang 2026 kemungkinan bukan yang terakhir. Selama praktik open dumping masih dipertahankan, setiap kemarau panjang akan terus menghadirkan risiko kebakaran serupa, bahkan lebih besar, seiring meningkatnya akumulasi gas metana,” tegas Wahyu.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore