
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf di kantor PBNU, Jakarta, Selasa (9/12). (Ridwan/JawaPos.com).
JawaPos.com - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kubu Gus Yahya menegaskan bahwa KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya tetap sah menjabat sebagai Ketua Umum PBNU sekaligus Mandataris Muktamar ke-34 NU.
Penegasan ini disampaikan menyusul beredarnya Surat Edaran moratorium implementasi Digdaya Persuratan yang dinilai tidak memiliki dasar hukum dan bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU.
Penegasan tersebut dituangkan dalam surat resmi PBNU bernomor 4900/PB.01/A.I.01.08/99/12/2025 tertanggal 16 Desember 2025.
Surat itu ditandatangani secara elektronik oleh jajaran pimpinan PBNU, yakni Rais PBNU KH A. Mu’adz Thohir, Katib Aam PBNU KH Akhmad Said Asrori, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, serta Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Dr. H. Najib Azca.
Dalam surat tersebut, PBNU menyatakan bahwa keputusan Rapat Harian Syuriyah pada 20 November 2025 yang dijadikan dasar pemberhentian Ketua Umum PBNU tidak sesuai dengan ketentuan organisasi.
"PBNU menilai keputusan tersebut melanggar AD dan ART NU karena mekanisme pemberhentian mandataris muktamar hanya dapat dilakukan melalui forum Muktamar," bunyi surat edaran tersebut, Rabu (17/12).
PBNU kubu Gus Yahya menegaskan bahwa rapat harian tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikan Ketua Umum PBNU. Oleh karena itu, keputusan yang dihasilkan dari rapat tersebut dinyatakan cacat hukum dan batal demi hukum.
Dengan demikian, PBNU memastikan bahwa KH Yahya Cholil Staquf tetap sah menjabat sebagai Ketua Umum PBNU hingga berakhirnya masa khidmat kepengurusan.
Keabsahan kepemimpinan tersebut juga diperkuat dengan Surat Keputusan Kementerian Hukum dan HAM Nomor AHU-0001097.AH.01.08 Tahun 2024 yang masih berlaku dan mencantumkan Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU.
Selain itu, PBNU kubu Gus Yahya juga menyatakan bahwa seluruh keputusan turunan yang bersumber dari rapat harian tersebut, termasuk Surat Edaran Moratorium Implementasi Digdaya Persuratan, tidak memiliki kekuatan hukum mengikat.
Selain bertentangan dengan konstitusi organisasi, surat moratorium tersebut dinilai ditandatangani oleh pihak yang tidak memiliki legal standing sesuai pengakuan negara.
"PBNU mengimbau seluruh jajaran pengurus NU di semua tingkatan untuk tetap menjaga soliditas organisasi, tidak terpengaruh oleh manuver yang dinilai inkonstitusional, serta terus menjalankan roda organisasi sesuai mandat Muktamar di bawah kepemimpinan Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf," pungkasnya.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
Ikhwan Ali Tanamal Resmi Gabung Persib Bandung, Siap Bekerja Keras Rebut Tempat di Tim Utama
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
