Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 Juli 2025 | 15.14 WIB

Di ICIEFE 2025, Gus Baha Ingatkan soal Krisis di Muka Bumi akibat Kerusakan Alam

Gus Baha di forum International Conference on Islamic Ecotheology for the Future of the Earth (ICIEFE) 2025 dan Kick-Off for the Refinement of MoRA’s Qur’anic Kementerian Agama. (Humas Kemenag)  - Image

Gus Baha di forum International Conference on Islamic Ecotheology for the Future of the Earth (ICIEFE) 2025 dan Kick-Off for the Refinement of MoRA’s Qur’anic Kementerian Agama. (Humas Kemenag) 

JawaPos.com - Kerusakan alam tidak hanya jadi perhatian kalangan ilmuwan, tetapi juga agamawan. Ulama tafsir Al-Qur’an asal Rembang KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha memperingatkan umat manusia terhadap krisis yang terjadi di muka bumi akibat kerusakan lingkungan. 

Pesan itu disampaikan Gus Baha di International Conference on Islamic Ecotheology for the Future of the Earth (ICIEFE) 2025 dan Kick-Off for the Refinement of MoRA’s Qur’anic. Acara yang diselenggarakan Kementerian Agama (Kemenag) itu mengaitkan peran agama dalam kelestarian alam. 

Dalam forum itu, Gus Baha mengajak umat Islam dan umat manusia secara umum untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi bumi. Dia menekankan bahwa Al-Qur’an sudah memberi peringatan tentang potensi krisis ekologis yang dapat mengancam kehidupan.

Peringatan Allah dalam Al-Qur’an terdapat pada surah Al-Mulk ayat 16–17. Di dalamnya menunjukkan bahwa manusia tidak boleh merasa aman sepenuhnya terhadap stabilitas bumi. Gus Baha menafsirkan kata tamūr sebagai gerakan bumi yang tiba-tiba dan mengguncang.

“Di semua tafsir, kata tamur diartikan sebagai at-tadribu wa-tartafi’u fawqakum, yaitu bumi yang bergelombang dan menggeliat di atas kalian,” jelasnya. Gus Baha menambahkan, ancaman juga bisa datang dari langit, sebagaimana dalam ayat lain yang menyebut potensi terjadinya hasib, yaitu benda-benda langit yang jatuh dan membahayakan bumi.

“Kita ini sangat bergantung pada kestabilan kosmik dan geologis. Jangan merasa aman secara mutlak,” ujar Gus Baha.

Lebih lanjut, Gus Baha menekankan pentingnya memahami sistem bumi yang telah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan, termasuk kemampuannya dalam menyerap dan mengalirkan air. “Kalau bumi mengisap semua air, lalu kamu tidak menemukan air, kamu bisa apa?” katanya.

Menurut Gus Baha, ayat-ayat tersebut mengandung pesan spiritual agar manusia lebih berhati-hati dan bertanggung jawab dalam mengelola alam. Tafsir Al-Qur’an, kata dia, bukan hanya teks keagamaan, tetapi juga panduan ekologis yang sarat dengan peringatan dan hikmah.

Dalam kesempatan yang sama, Menag Nasaruddin Umar prihatin dengan perilaku manusia yang mengeksploitasi alam secara berlebihan, bahkan membuat hutan menjadi bolong. Dia mengapresiasi umat Hindu di Bali yang tidak menebang pohon-pohon yang berukuran besar. 

Nasaruddin mengungkapkan pentingnya menata ulang cara pandang umat beragama, khususnya Islam, terhadap alam semesta. Menurut dia, alam perlu diposisikan bukan sebagai objek eksploitasi, tetapi sebagai mitra dalam kehidupan.

Dia mengatakan memposisikan alam sebagai mitra dalam kehidupan bisa dilihat dari umat Hindu di Bali. "Kalau kita lihat tradisi Hindu di Bali, mereka sangat menghormati pohon-pohon besar," tuturnya. 

Imam Besar Masjid Istiqlal itu mengatakan, sejak dahulu umat Hindu di Bali sudah menganggap alam di sekitarnya sebagai partner dalam kehidupan. Untuk itu, umat Hindu di Bali tidak berani menebang pohon-pohon yang berukuran jumbo. "Bukan karena takut, tetapi dianggap sebagai bagian yang sama dengan dirinya,” jelasnya.

Nasaruddin menambahkan, perubahan perilaku umat beragama terhadap alam tidak bisa terjadi tanpa perubahan teologi. Menurut dia, teologi saat ini terlalu maskulin. Padahal Tuhan sangat erat dengan sifat feminin yang penuh kasih sayang terhadap ciptaan-Nya. “Untuk itu, kita butuh kelembutan dalam memahami Tuhan dan alam,” katanya.

Nasaruddin mengatakan umat manusia perlu membangun hubungan emosional dan spiritual dengan alam. Untuk itu, dia mendorong pemanfaatan otak kanan dalam memahami alam, bukan sekadar menggunakan logika dan nalar semata.

Dia menyebut masyarakat ribuan tahun lalu yang mampu bertahan hidup tanpa bantuan teknologi modern. Mereka hidup mengandalkan kedekatan dan persahabatan dengan alam dalam menjalani kehidupan sehari-hari. “Mereka tidak membutuhkan laboratorium dan teknologi canggih, tetapi bisa bertahan hidup. Cara mereka adalah melalui persahabatannya dengan alam,” ungkapnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore