
Gus Baha di forum International Conference on Islamic Ecotheology for the Future of the Earth (ICIEFE) 2025 dan Kick-Off for the Refinement of MoRA’s Qur’anic Kementerian Agama. (Humas Kemenag)
JawaPos.com - Kerusakan alam tidak hanya jadi perhatian kalangan ilmuwan, tetapi juga agamawan. Ulama tafsir Al-Qur’an asal Rembang KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha memperingatkan umat manusia terhadap krisis yang terjadi di muka bumi akibat kerusakan lingkungan.
Pesan itu disampaikan Gus Baha di International Conference on Islamic Ecotheology for the Future of the Earth (ICIEFE) 2025 dan Kick-Off for the Refinement of MoRA’s Qur’anic. Acara yang diselenggarakan Kementerian Agama (Kemenag) itu mengaitkan peran agama dalam kelestarian alam.
Dalam forum itu, Gus Baha mengajak umat Islam dan umat manusia secara umum untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi bumi. Dia menekankan bahwa Al-Qur’an sudah memberi peringatan tentang potensi krisis ekologis yang dapat mengancam kehidupan.
Peringatan Allah dalam Al-Qur’an terdapat pada surah Al-Mulk ayat 16–17. Di dalamnya menunjukkan bahwa manusia tidak boleh merasa aman sepenuhnya terhadap stabilitas bumi. Gus Baha menafsirkan kata tamūr sebagai gerakan bumi yang tiba-tiba dan mengguncang.
“Di semua tafsir, kata tamur diartikan sebagai at-tadribu wa-tartafi’u fawqakum, yaitu bumi yang bergelombang dan menggeliat di atas kalian,” jelasnya. Gus Baha menambahkan, ancaman juga bisa datang dari langit, sebagaimana dalam ayat lain yang menyebut potensi terjadinya hasib, yaitu benda-benda langit yang jatuh dan membahayakan bumi.
“Kita ini sangat bergantung pada kestabilan kosmik dan geologis. Jangan merasa aman secara mutlak,” ujar Gus Baha.
Lebih lanjut, Gus Baha menekankan pentingnya memahami sistem bumi yang telah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan, termasuk kemampuannya dalam menyerap dan mengalirkan air. “Kalau bumi mengisap semua air, lalu kamu tidak menemukan air, kamu bisa apa?” katanya.
Menurut Gus Baha, ayat-ayat tersebut mengandung pesan spiritual agar manusia lebih berhati-hati dan bertanggung jawab dalam mengelola alam. Tafsir Al-Qur’an, kata dia, bukan hanya teks keagamaan, tetapi juga panduan ekologis yang sarat dengan peringatan dan hikmah.
Dalam kesempatan yang sama, Menag Nasaruddin Umar prihatin dengan perilaku manusia yang mengeksploitasi alam secara berlebihan, bahkan membuat hutan menjadi bolong. Dia mengapresiasi umat Hindu di Bali yang tidak menebang pohon-pohon yang berukuran besar.
Nasaruddin mengungkapkan pentingnya menata ulang cara pandang umat beragama, khususnya Islam, terhadap alam semesta. Menurut dia, alam perlu diposisikan bukan sebagai objek eksploitasi, tetapi sebagai mitra dalam kehidupan.
Dia mengatakan memposisikan alam sebagai mitra dalam kehidupan bisa dilihat dari umat Hindu di Bali. "Kalau kita lihat tradisi Hindu di Bali, mereka sangat menghormati pohon-pohon besar," tuturnya.
Imam Besar Masjid Istiqlal itu mengatakan, sejak dahulu umat Hindu di Bali sudah menganggap alam di sekitarnya sebagai partner dalam kehidupan. Untuk itu, umat Hindu di Bali tidak berani menebang pohon-pohon yang berukuran jumbo. "Bukan karena takut, tetapi dianggap sebagai bagian yang sama dengan dirinya,” jelasnya.
Nasaruddin menambahkan, perubahan perilaku umat beragama terhadap alam tidak bisa terjadi tanpa perubahan teologi. Menurut dia, teologi saat ini terlalu maskulin. Padahal Tuhan sangat erat dengan sifat feminin yang penuh kasih sayang terhadap ciptaan-Nya. “Untuk itu, kita butuh kelembutan dalam memahami Tuhan dan alam,” katanya.
Nasaruddin mengatakan umat manusia perlu membangun hubungan emosional dan spiritual dengan alam. Untuk itu, dia mendorong pemanfaatan otak kanan dalam memahami alam, bukan sekadar menggunakan logika dan nalar semata.
Dia menyebut masyarakat ribuan tahun lalu yang mampu bertahan hidup tanpa bantuan teknologi modern. Mereka hidup mengandalkan kedekatan dan persahabatan dengan alam dalam menjalani kehidupan sehari-hari. “Mereka tidak membutuhkan laboratorium dan teknologi canggih, tetapi bisa bertahan hidup. Cara mereka adalah melalui persahabatannya dengan alam,” ungkapnya.

Prediksi Skor Afrika Selatan vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Penentu Les Rouges Lolos 16 Besar
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 32 Besar, Hasil Imbang Skenario Paling Masuk Akal
Prediksi Skor Brasil vs Jepang di Piala Dunia 2026: Kans Selecao Lolos 16 Besar Lewat Adu Penalti
Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Netizen: Muak Sekali
Prediksi Skor Panama vs Inggris: Three Lions Sedang Tak Ideal, Harry Kane Ingin Kembali ke Jalur Gol
Prediksi Skor Jerman vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Der Panzer Bisa Amankan Tiket 16 Besar dalam 90 Menit
Prediksi Afrika Selatan vs Kanada di 32 Besar Piala Dunia 2026: Bafana Bafana Ukir Sejarah!
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
