
Ilustrasi Fear of Missing Out (FOMO) (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Budaya overconsumption atau konsumsi berlebih terbukti berkontribusi terhadap krisis iklim yang semakin nyata. Salah satu pemicunya adalah tren Fear of Missing Out (FOMO) yang berkembang pesat melalui konten di media sosial.
Merespons fenomena tersebut, diperlukan pergeseran pendekatan dalam pengelolaan lingkungan, dari metode end of pipe menuju pendekatan preventif berbasis Sustainable Consumption and Production (SCP). Hal ini disampaikan dalam seminar dan workshop bertema “From FOMO to Overconsumption: Ketika Tren Jadi Toxic Buat Bumi” yang diselenggarakan di Kampus Universitas Indonesia (UI).
Adam Faza Gimnastiar, Humas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, menegaskan pemerintah memiliki peran penting sebagai regulator, fasilitator, sekaligus katalisator dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat.
“Pemerintah berperan sebagai regulator, fasilitator, sekaligus katalisator dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat,” kata Adam, Minggu (26/4).
Sementara itu, akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI, Muhammad Imam, menilai fenomena ini dapat ditanggulangi melalui kebijakan yang tegas dalam menghadapi krisis iklim. Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda sebagai agen perubahan.
“Orang muda perlu aktif terlibat dalam proses kebijakan, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai aktor perubahan,” ujarnya.
Ariq Gilang Narendra, Sustainability & External Affairs Assistant, menyatakan bahwa keberlanjutan tidak dapat dicapai secara parsial. Ia menekankan, dunia usaha harus berjalan selaras dengan kebijakan publik melalui kolaborasi lintas sektor.
“Penting untuk menerapkan SCP di seluruh rantai nilai bisnis,” tegasnya.
Di sisi lain, Neildeva Despendya, Co-Founder dan Direktur Eksekutif Yayasan Partisipasi Muda (YPM), menyoroti dampak perubahan iklim terhadap generasi muda, termasuk meningkatnya risiko eco-anxiety. Ia menilai masih terdapat kesenjangan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan nyata anak muda.
“Masih terdapat kesenjangan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan nyata generasi muda yang perlu dijembatani melalui partisipasi bermakna,” pungkasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

5 Cara Menemukan Jodoh Bagi Orang Introvert Yang Tidak Suka Bersosialisasi
Mengulik Penyebab Rans Carnival Diboikot, Deklarasi Mahasewa hingga Share Revenue UMKM 20 Persen
Profil AKBP Netty Rosdiana, Istri Jenderal Polisi yang Pernah Sindir Seskab Teddy 'Lupa Daratan'
Prediksi Skor Garudayaksa vs PSS Sleman: Sama-Sama Terluka, Duel Pakansari Rawan Berakhir Imbang
5 Pekerjaan Terbaik untuk Introvert, Pilihan Karir yang Sesuai dengan Kelebihan Diri
Fitrah Maulana Syukuri Debut dan Cleansheet di ACL Two Bersama Persib Bandung
Prediksi Skor Garudayaksa FC vs PSS Sleman: Kejutan atau Deja vu Final Championship Musim Lalu
Prediksi Skor Dewa United vs Persija di Super League: Macan Kemayoran Amankan Poin Penting di Banten
Matheus Lagoa Segera Bela Persebaya Surabaya, Cedera Betis Pulih, 30 Gol Jadi Modal
Jack Miller Ungkap Alasan Marah di Sprint Race MotoGP Malaysia, Minta Maaf ke Pramac Yamaha

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022