Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 17 Februari 2024 | 12.54 WIB

Pengamat Strategi Manajemen Sebut Anak Muda Jadi Kunci Kemenangan Prabowo-Gibran

Ilustrasi anak muda pendukung Prabowo-Gibran. - Image

Ilustrasi anak muda pendukung Prabowo-Gibran.

JawaPos.com–Apa yang membuat suara Prabowo-Gibran begitu tinggi? Sebaliknya mengapa suara kompetitornya begitu jatuh pada hari pemilihan?

Pengamat Strategi Manajemen Abdullah Sammy menilai, salah satu terobosan yang dilakukan Prabowo-Gibran adalah membentuk divisi Fanta yang menjadi klaster TKN pemilih muda. TKN Fanta atau TKN Pemilih Muda itu menjadi sentral dalam setiap agenda dan kegiatan 02. Utamanya dalam sosialisasi ke kalangan anak muda.

”Selain dipimpin sosok milenial, Muhammad Arief Rosyid, seluruh anggota TKN Fanta ini berusia di rentang 17 hingga 30-an tahun,” terang Abdullah Sammy.

Menurut dia, hal itu menjadi kunci kedua di balik kemenangan meyakinkan pasangan 02. Sebab desain yang baik, brand yang kuat, dan produk yang unik tidak cukup tanpa marketing yang baik.

”Harus diakui TKN Pemilih Muda Prabowo-Gibran atau TKN Fanta menjalankan fungsi marketing Prabowo-Gibran yang sangat baik,” tutur Abdullah Sammy.

TKN Pemilih Muda Prabowo Gibran lanjut dia, secara maksimal menggunakan media digital sebagai sarana untuk menyebarkan ide maupun kegiatan pasangan 02 yang umumnya bersifat budaya pop. TKN Pemilih Muda memasarkan politik yang heboh, seru, dan asyik bagi anak muda.

”Spontanitas dan keunikan Prabowo dan Gibran dalam debat langsung dipasarkan TKN Muda sebagai sebuah tren baru,” papar Abdullah Sammy.

”Inilah salah satu kunci yang menciptakan tren di kalangan anak muda. Muncullah tren joget gemoy, narasi sorry ye, hingga Omon-Omon. Pendekatan politik yang heboh, seru, dan asyik akhirnya menciptakan FOMO alias fear of missing out di kalangan anak muda,” ujar dia.

”Anak muda merasakan 02 sebagai bagian dari tren.  Para pemilih muda pun tak mau ketinggalan bagian dari tren Gemoy atau Ok Gas yang sukses disosialisasikan TKN Muda,” tambah dia.

Di sisi sebaliknya, lanjut Abdullah Sammy, paslon lain memilih kemasan yang lebih serius dengan format diskusi, baik online maupun offline. Itu seperti dalam metode kampanye Anies Baswedan yang sejatinya sejak awal punya brand sebagai akademisi atau intelektual.

Sebaliknya Ganjar Pranowo mencoba memperkuat brand yang merakyat. Brand yang sejatinya sudah sangat kuat melekat di diri Presiden Jokowi. Kesalahan Ganjar menurut dia, soal konsistensi dalam mencitrakan brand. Tidak jelas mana sasaran utamanya apakah brand muda atau merakyat yang dituju.

”Jadi jangan pernah menyepelekan budaya populer. Tidak relevan lagi budaya tinggi atau budaya rendah, yang penting adalah seni yang baik atau tidak,” ucap Abdullah Sammy.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore