Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 Agustus 2023 | 17.37 WIB

Pengalaman Aga dan Elok Berjambore Dunia di Korsel di Tengah Cuaca Ekstrem serta Ancaman Topan

LINTAS NEGARA: Elok Pesona Hayati dan sejumlah peserta Jambore Pramuka Dunia di Saemangeum, Korea Selatan. - Image

LINTAS NEGARA: Elok Pesona Hayati dan sejumlah peserta Jambore Pramuka Dunia di Saemangeum, Korea Selatan.

Sandyaga Maulana Bahri sebenarnya sudah mulai menikmati suasana perkemahan saat akhirnya harus dievakuasi bersama semua peserta. Elok Pesona Hayati yang mendaftar sebagai relawan mendapat pengalaman berharga menangani logistik yang selalu kurang.

LAILATUL FITRIANI, Surabaya

TOPAN Khanun yang mengamuk di luar pengungsian tak membuat ciut nyali Sandyaga Maulana Bahri dan regunya. Mereka tetap asyik menampilkan tari poco-poco di hadapan peserta Jambore Pramuka Dunia dari berbagai negara. Tak disangka, semua ternyata ikut turun menari bersama.

”Padahal nggak disuruh, tapi bisa kompak menari bersama teman-teman dari negara lain. Jadi nggak takut dan stres mikirin keadaan saat itu,’’ ungkap Aga, sapaan akrabnya, saat dihubungi Jawa Pos dari Surabaya kemarin (14/8).

Pelajar 14 tahun itu berangkat ke Korea Selatan bersama tim Pramuka dari Labschool Cibubur untuk mewakili Kwarda Jawa Barat. Dia bagian dari kontingen Indonesia yang berjumlah total 1.579 orang ke Jambore Pramuka Dunia di Saemangeum, Korea Selatan (Korsel). Itu menjadi pengalaman perdana jambore dunia yang dia ikuti.

”Awalnya, saya hanya tertarik gara-gara terlihat seru dan gampang. Saat menjalankannya ternyata lebih seru sekaligus lebih susah,’’ ujar pelajar kelas IX itu.

Bagaimana tidak, Aga dan puluhan ribu peserta lain dari 158 negara harus menghadapi beragam kendala. Mulai panas ekstrem sampai ancaman Topan Khanun.

Beberapa kegiatan pun terpaksa dihentikan akibat panas ekstrem. Tak sedikit partisipan bahkan ditarik dari perkemahan dan dipulangkan sebelum acara selesai. Kendati demikian, Aga dan kontingen Indonesia tetap solid bertahan meski panas mencapai 40 derajat Celsius.

”Kita bikin fun aja kayak pas ambil makanan ke tempat logistik sambil bawa gerobak, tapi malah seru mainan gerobak sama teman-teman. Jadi nggak terasa panas dan capeknya,’’ kenang remaja yang tinggal di Depok, Jawa Barat, itu.

Sejak pagi, semua sudah mendapatkan tugas masing-masing. Ada yang memasak. Ada pula yang membuang sampah. Semua dilakukan di tenda. Aga sendiri kebagian menyiapkan makanan untuk sarapan.

Dilanjutkan berbagai aktivitas dari jambore seperti panjat tebing, kegiatan di air. Juga bermain sama teman-teman baru dari negara-negara lain.

Suatu ketika saat cultural day, kontingen Indonesia mengenakan pakaian daerah. Aga memakai baju Minang. Dia dan kawan-kawannya di tenda juga mengenalkan budaya hingga makanan Indonesia.

’’Teman-teman yang cewek bikin soto, yang laki-laki bikin mi goreng instan rasa mi Aceh,’’ tuturnya.

Mereka juga membagikan jajanan dan minuman tradisional seperti dodol, sekoteng, hingga bandrek. ”Orang-orang asing yang mampir ke tenda pada bilang enak,’’ imbuhnya.

Sayang, saat mulai terbiasa dan menikmati keseruan di perkemahan, mereka harus dievakuasi ke Universitas Wonkwang. Sebab, Topan Khanun bergerak menuju lokasi jambore.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore