
Ilustrasi panen padi hasil inovasi BRIN untuk pertumbuhan di tengah cuaca dan kondisi lahan pertanian ekstrem. (Istimewa)
JawaPos.com - Upaya mencari alternatif pertanian adaptif di tengah perubahan iklim mulai menunjukkan hasil. Inovasi budidaya padi biosalin yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT Perusahaan Gas Negara Tbk dan pemerintah daerah terbukti mampu menjaga produktivitas di wilayah pesisir yang rentan terdampak cuaca ekstrem.
Program yang dijalankan di Kabupaten Jepara ini bahkan melampaui target panen. Dari rencana awal 20 hektare, realisasi mencapai 22 hektare pada musim tanam terbaru, menunjukkan efektivitas pendekatan berbasis riset dalam menghadapi tantangan lingkungan.
Keberhasilan ini menjadi sorotan karena dilakukan di lahan pesisir yang selama ini dikenal sulit ditanami akibat intrusi air laut dan meningkatnya kadar garam tanah. Dengan pendekatan biosalin, lahan yang sebelumnya kurang produktif justru mampu menghasilkan panen dengan produktivitas rata-rata 7–9 ton per hektare atau setara sekitar 176 ton gabah secara total.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Arif Satria, menegaskan bahwa inovasi ini dirancang untuk menjawab tantangan nyata di sektor pertanian, khususnya di wilayah pesisir.
"Keunggulan varietas Biosalin ini adalah mampu menghasilkan kurang lebih 9 ton per hektare dan memiliki masa tanam antara 84 hingga 107 hari. Yang tidak kalah penting varietas biosalin ini memiliki kelebihan tahan terhadap hama penyakit dan mampu bertahan di lahan marginal," jelas Arif melalui keterangannya.
Menurutnya, pengembangan padi biosalin tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga menjadi strategi mitigasi terhadap dampak perubahan iklim, termasuk banjir rob dan meningkatnya salinitas tanah yang kerap memicu gagal panen.
Lebih jauh, model ini dinilai berpotensi direplikasi di berbagai wilayah pesisir Indonesia yang menghadapi persoalan serupa. Dengan demikian, inovasi berbasis riset dapat menjadi tulang punggung dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menyebut keberhasilan panen ini sebagai momentum penting bagi sektor pertanian daerah. Ia menilai pendekatan teknologi dan riset mampu memberikan keyakinan baru bagi petani untuk tetap berproduksi di tengah ketidakpastian iklim.
“Keberhasilan panen ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, sektor pertanian tetap bisa tumbuh dan memberikan nilai ekonomi, bahkan di tengah tekanan cuaca ekstrem,” katanya.
Sementara itu, pihak PT Perusahaan Gas Negara Tbk menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program. Selain menghadirkan inovasi, pendampingan kepada petani juga dilakukan untuk memastikan transfer pengetahuan berjalan efektif.

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
Prediksi Skor Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: Team Melli Diterpa Gejolak Geopolitik Tapi Punya Kans Menang
Prediksi Skor Arab Saudi vs Uruguay di Piala Dunia 2026: La Celeste Dijagokan Menang!
