Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 22 Agustus 2021 | 17.03 WIB

Kalau Tidak Pergi, Mungkin Saya Dibunuh

PANIK: Ribuan warga Afghanistan memenuhi Bandara Kabul kemarin. Sebagian bahkan nekat ke atap pesawat. Mereka ingin keluar dari Kabul setelah kota itu tersebut dikuasai Taliban (AFP) - Image

PANIK: Ribuan warga Afghanistan memenuhi Bandara Kabul kemarin. Sebagian bahkan nekat ke atap pesawat. Mereka ingin keluar dari Kabul setelah kota itu tersebut dikuasai Taliban (AFP)

Kisah Jurnalis Afghanistan yang Ikut Dievakuasi TNI


JawaPos.com – Rasa syukur mengalir deras dalam hati Asef Ghafoory ketika berhasil duduk di kursi pesawat militer TNI-AU. Asef adalah warga Afghanistan yang menikah dengan WNI dan dievakuasi kemarin (21/8). Karena berstatus suami dari WNI, Asef diizinkan ikut dalam misi evakuasi.

Asef merasa sangat beruntung berkesempatan keluar dari Afghanistan. Kelegaan itu bukan tanpa alasan.

Pekerjaannya sebagai jurnalis membuat nyawanya terancam. Kabar mengenai kekejaman Taliban yang mulai membunuh satu per satu jurnalis di Afghanistan bukan isapan jempol belaka. Menurut Asef, sudah banyak jurnalis yang tewas dibunuh. Bahkan, mereka sengaja mengecek setiap rumah untuk mencari para jurnalis.

”Saya merasa sedih harus meninggalkan negara saya. Tetapi, di sisi lain, saya bersyukur memiliki kesempatan untuk hidup. Sebab, jika tetap berada di sana, mungkin saya akan terbunuh,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos kemarin.

Dia mengungkapkan, Taliban sengaja memburu para jurnalis untuk membungkam mereka. Tujuannya, para jurnalis tidak lagi memberitakan kondisi di sana, terutama mengenai pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Apalagi yang menyangkut perempuan dan anak-anak. Kekejian itu juga terjadi kepada para aktivis di sana. Akibatnya, mereka takut untuk tetap berada di Afghanistan.

”Karena selama ini yang kami lakukan adalah menyuarakan hak-hak perempuan dan hak asasi manusia di sana,” ungkap pria yang sudah bekerja selama 15 tahun di bidang jurnalistik tersebut.

Karena itu, melihat kondisi negaranya saat ini, jurnalis yang juga dosen di salah satu universitas di Kabul tersebut meminta PBB segera mengambil tindakan tegas. Diharapkan, Taliban menghentikan segala pelanggaran HAM dan berhenti membunuh warga setempat. PBB juga diharapkan membantu rakyat Afghanistan untuk memiliki pemerintahan yang baik. Demokrasi, perdamaian, toleransi, dan kebersamaan bisa tercipta. Sebab, ada keberagaman besar di Afghanistan, baik itu etnis, bahasa, agama, maupun lainnya. ”Kami ingin mereka semua menjadi bagian dari masa depan. Karena itulah, kami membutuhkan dukungan kuat dari PBB,” katanya.

Kondisi setelah Taliban kembali disebutnya membuat semua orang di sana panik. Semua orang ketakutan karena memang Taliban tidak segan-segan berbuat kejam. Hari demi hari situasi kian memburuk. Hingga akhirnya, sang istri mendapat kabar bahwa ada evakuasi yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam waktu dekat. ”Istri saya mengatakan mungkin harus pindah. Jadi, saya mengiyakan,” ujarnya.

Proses evakuasi tidak mudah. Ada banyak koordinasi yang dilakukan semua pihak agar tim evakuasi bisa tiba di bandara Kabul. Terlebih, ketika mereka sampai di bandara, ribuan orang sudah berada di sana. Termasuk perempuan dan bayi. Suasana chaos. Mereka berusaha masuk ke bandara untuk bisa ikut penerbangan meninggalkan Afghanistan. Terlebih ketika pasukan Taliban yang berjaga di sana terus menembak untuk meredam kekacauan yang terjadi. ”Taliban terus menembaki kerumunan orang. Tangisan di mana-mana. Mereka takut, tapi tetap ingin pergi meninggalkan Afghanistan,” jelasnya.

Meski sudah berada di kawasan sekitar bandara, mereka tidak bisa langsung masuk. Mereka harus menunggu koordinasi yang tengah dilakukan para diplomat Indonesia dengan sejumlah pihak untuk bisa masuk gate 1. Seluruh rombongan pun terpaksa duduk di jalanan sambil menunggu izin masuk ke gate.

Setelah beberapa saat, mereka akhirnya diizinkan masuk. Dan, ternyata, saat di perjalanan menuju gate 1, terjadi penyusupan oleh warga setempat. Mereka mencoba berpura-pura menjadi anggota rombongan diplomatik Indonesia. Namun, semuanya gagal menyusup karena rombongan tidak memberi kesempatan mereka masuk barisan. ”Ada ribuan orang di sana, ada yang sibuk berjalan, tidur, memberi makan anak-anaknya. Sangat kacau,” ungkapnya.

Setelah melewati gate 1, mereka harus menuju ke gate NATO. Rombongan dibantu rekan dari Kedubes Turki. Setelah sampai di sana, mereka pun harus kembali melewati pemeriksaan paspor dan menunggu sekitar 30 menit. Hingga kemudian, mereka dibantu militer Turki menuju pesawat TNI-AU dengan menaiki mobil. ”Setelah masuk ke pesawat, semuanya berjalan baik hingga kami tiba di Indonesia,” tandasnya.
Editor: Ilham Safutra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore