
Anggun Setyo selaku Guru Bimbingan Konseling sekaligus Penanggung Jawab Program Makan Bergizi Gratis (PIC MBG) di SMPN 25 Kota Tangerang/(Dimas Choirul/Jawapos.com).
JawaPos.com — Di tengah hiruk-pikuk aktivitas belajar di SMPN 25 Kota Tangerang, Banten, satu sosok terlihat sibuk memastikan sesuatu yang sering luput dari perhatian: ompreng makan siang anak-anak. Ia adalah Anggun Setyo, guru Bimbingan Konseling sekaligus Penanggung Jawab Program Makan Bergizi Gratis (PIC MBG) di sekolah tersebut.
Setiap hari, selepas jam pelajaran menjelang tengah hari, Anggun berkeliling kelas. Tangannya memeriksa satu per satu ompreng—wadah makan bergizi yang dikirimkan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Larangan. Ia memastikan tak ada yang tertinggal, jumlahnya sesuai, dan distribusi berjalan lancar.
“Kadang ada miss (keluputan), misalnya di meja satu jumlahnya kurang satu. Ternyata cuma keselip. Jadi saya harus cek lagi, koordinasi dengan tim SPPG dan ahli gizi,” ungkapnya kepada Jawapos.com, Rabu (24/9).
Bagi Anggun, menjadi PIC Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar tambahan tugas, melainkan wujud pengabdian. Ia mengaku ikhlas menjalaninya, meski tetap mengajar sebagai guru BK.
“Karena program ini nyata bermanfaat bagi anak-anak. Apalagi sekitar 40 persen siswa kami dari keluarga kurang mampu, sangat terbantu dengan MBG ini,” katanya.
Tantangan kecil seperti mengatur siswa di kelas saat makanan datang, atau memastikan setiap ompreng diikat rapi per lima, dianggapnya bagian dari proses. “Suka dukanya mungkin saat kedatangan makanan, kita harus mengondisikan siswa di kelas. Tapi selebihnya alhamdulillah lancar,” ujarnya sambil tersenyum.
Mekanisme distribusi di SMPN 25 pun berjalan rapi. Dari setiap kelas, 5–7 siswa ditunjuk menjadi koordinator pengambilan makanan. Mereka bertugas membawa jatah makan teman-temannya ke kelas, dengan pendampingan guru. Setiap pengambilan dan pengembalian makanan dicatat dengan tanda tangan, memastikan tidak ada yang tercecer.
Di balik kesibukan itu, Anggun merasa dirinya menjadi bagian dari perubahan. Ia menyebut program MBG sebagai langkah besar pemerintah dalam memperhatikan generasi muda.
“Terus terang saya terinspirasi dengan program-program Pak Presiden Prabowo. Ada sekolah rakyat, ada MBG. Menurut saya, program yang baik didukung, yang belum baik kita evaluasi. Saya pribadi sangat pro karena manfaatnya nyata,” jelasnya.
Perluas Jangkauan
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) berkomitmen memperluas jangkauan MBG ke daerah lain. Program ini dirancang agar siswa di berbagai wilayah mendapat akses makanan sehat yang setara.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan kolaborasi dengan platform digital akan mempercepat distribusi makanan. Kemkomdigi siap menjadi penghubung agar sinergi ini berdampak nyata bagi masyarakat.
“Kementerian Komdigi siap menjadi penghubung untuk mendorong sinergi antara platform digital dan ekosistem kami, sehingga program ini dapat menyasar daerah-daerah yang membutuhkan,” ujar Meutya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
