
Politisi PKS Mardani Ali Sera.(Royyan)
JawaPos.com - Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR Mardani Ali Sera, menyoroti fenomena aksi civil society di sejumlah negara, salah satunya Nepal. Ia mengingatkan pemerintah Indonesia agar merealisasikan harapan publik dengan lebih baik, sehingga kejadian di Nepal tidak terjadi di tanah air.
“Negara harus semakin baik dalam merealisasikan harapan publik. Jangan sampai Indonesia mengalami seperti yang terjadi di Nepal,” kata Mardani kepada wartawan, Selasa (16/9).
Legislator Fraksi PKS itu menekankan, pada era modern saat ini, aspirasi publik semakin mudah tersalurkan, termasuk melalui media sosial yang bisa memicu reaksi luas bahkan menjadi gerakan perlawanan.
“Ada fenomena baru. Publik kian punya banyak saluran menyuarakan nuraninya. Media sosial milik tiap individu bisa menjadi saluran efektif. Kadang aktornya orang biasa, tapi isunya menyentuh banyak pihak,” jelasnya.
Mardani tak menginginkan Indonesia seperti Nepal yang menimbulkan kekacauan besar hingga menewaskan sedikitnya 51 orang.
Bahkan, dikabarkan puluhan ribu narapidana memanfaatkan situasi kacau untuk kabur dari penjara.
Ia menyebut, situasi di Nepal jauh lebih parah dibanding unjuk rasa di Indonesia pada 25–31 Agustus lalu, yang dipicu insiden tewasnya pengemudi ojek online Affan Kurniawan setelah dilindas mobil rantis Brimob.
Selain itu, gelombang aksi massa juga terjadi di negara lain, termasuk Australia, yang pada 13 September lalu diwarnai demonstrasi besar-besaran menentang isu rasisme dan anti-imigran.
Aksi tersebut berlangsung di berbagai negara bagian, salah satunya di Melbourne yang dipadati ribuan massa.
Menyikapi fenomena global ini, Mardani menekankan seluruh unsur negara, di antaranya eksekutif, legislatif, maupun yudikatif perlu menjadikan dinamika ini sebagai bahan evaluasi kebijakan.
“Semua elite eksekutif, legislatif, dan yudikatif perlu mendalami fenomena ini. Negara harus mampu mendekatkan eksekusi dengan harapan publik. Namun, kadang harapan publik tidak sejalan dengan fenomena viralitas,” tegasnya.
Karena itu, ia menilai perlu adanya kajian berbasis data dan riset yang memadai. Tujuannya agar pemerintah mampu merancang program yang benar-benar menyejahterakan rakyat.
“Kita perlu menyiapkan perangkat agar bisa menyiapkan program menyejahterakan masyarakat dengan cepat. Agar tidak terjadi seperti di Nepal,” pungkasnya.

Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Artis Arie Nugroho dan Windy Wulandari Berduka Yogi Rahmat Meninggal Dunia
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
10 Besar Penjualan Mobil Juni 2026: BYD Comeback jadi Merek Tiongkok Terlaris Kalahkan Jaecoo
Polisi Temukan Uang Rp60 Miliar di Cafe de Clan Jaksel, Diangkut Pakai 3 Mobil
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Viral dr. Anggi Aprilyani Masuk Gereja, Tuai Tudingan Penistaan Agama
Gosip Perselingkuhan Lionel Messi Memanas, Sang Istri Tanggapi Rumor Skandal Suami dengan Jurnalis Argentina
