Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 8 Desember 2024 | 04.00 WIB

Belajar dari Kasus Gus Miftah, Masyarakat Dianjurkan Tak Takut Tegur Pemuka Agama yang Bersalah

Miftah Maulana. (Dok Jawa Pos) - Image

Miftah Maulana. (Dok Jawa Pos)

JawaPos.com - Psikolog Muhammad Iqbal mengatakan, banyak orang cenderung memaklumi pernyataan bernada merendahkan dan menghina orang lain yang dilakukan oleh tokoh agama. Fenomena itu bisa terjadi karena mereka cenderung mengkultuskan.

"Kultus. Karena sebutan Gus itu dianggap terhormat,nggak ada yang berani mengingatkan," ujar Muhammad Iqbal dalam podcast Novel Baswedan di YouTube.

Hal ini yang juga dialami Miftah Maulana. Menurut dia, orang-orang tidak berani untuk mengingatkan candaan kurang pantas dilakukan Miftah dan akhirnya terus berlanjut candaan itu karena adanya pemakluman dan tidak ada yang berani mengingatkan.

Lebih lanjut dia mengatakan, seorang ustad atau tokoh agama bukanlah seorang nabi atau rasul yang dijaga oleh Allah dari melakukan kesalahan dan dosa.
 
Baca Juga: Menghina Penjual Es Teh dan Seniman Yati Pesek, Menurut Psikologi Gus Miftah Alami Star Syndrome

Oleh karena ustad atau tokoh agama merupakan manusia biasa, harus ada yang berani memberikan teguran ketika si tokoh agama itu melakukan kesalahan dalam melontarkan candaan.

"Ustad, kiai, gus juga manusia biasa, pasti dia punya khilaf dan salah. Nah, disinilah perlunya rasionalitas dalam beragama, rasionalitas dalam relasi sosial," paparnya.

Menurut Muhammad Iqbal, masyarakat atau orang terdekat dari ustad atau si tokoh agama harus berani mengingatkan apabila dia sudah melakukan tindakan yang mengarah ke kesalahan. Karena terkadang ustad atau tokoh agama itu merasa tidak melakukan kesalahan karena candaan yang dilontarkan tersebut sudah dilakukan berkali-kali.
 
Baca Juga: Prabowo Belum Tentukan Calon Pengganti Miftah Maulana di Posisi Utusan Khusus Presiden

"Walaupun kiai, ustad, tetap harus diingatkan karena kiai juga manusia. Para pendamping kiai harus memiliki komitmen dan keberanian untuk menegur dan mengingatkan," paparnya.

Muhammad Iqbal memberikan apresiasi kepada Miftah yang sudah meminta maaf menyadari kesalahannya dan memutuskan mundur dari jabatannya sebagai Utusan Khusus Presiden. Dia pun berharap Miftah bisa memperbaiki diri sehingga dapat kembali ke tengah-tengah masyarakat dengan personality baru yang lebih baik.

"Untuk Gus Miftah, tetap semangat berjuang memperbaiki diri. Semua orang pasti ada khilafnya karena kita manusia biasa," paparnya.
Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore