Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 Agustus 2024 | 01.01 WIB

Mulyono dan Misteri Keberatan Nama atau ‘Kabotan Jeneng’, dalam Perspektif Primbon Jawa dan Psikologis

Ilustrasi primbon Jawa yang menyimpan misteri soal ‘kabotan jeneng’ atau keberatan nama.(Freepik/jcomp) - Image

Ilustrasi primbon Jawa yang menyimpan misteri soal ‘kabotan jeneng’ atau keberatan nama.(Freepik/jcomp)

JawaPos.com – Pernahkah Anda mendengar tentang anak yang sering sakit-sakitan, apes, atau sial, lalu orang tuanya mengatakan bahwa ia keberatan nama atau ‘kabotan jeneng?’

Kepercayaan ini sudah mengakar kuat di masyarakat Jawa. Bahkan hingga kini di era modern yang serbacanggih. Namun, benarkah ada hubungan antara nama dengan kesehatan dan nasib seseorang?

Berikut bentuk fenomena ‘kabotan jeneng’ ini dari sudut pandang tradisi menurut Primbon Jawa dan psikologi.

Ketika Nama Membawa Beban, Bukan Berkah

Dalam kepercayaan Jawa, nama yang terlalu berat, muluk-muluk, atau tidak sesuai dengan aura seseorang diyakini bisa membawa dampak negatif. Lantas, bagaimana menyikapi fenomena itu?

Dilansir dari kanal YouTube Dewi Sundari Praktisi Kejawen, Sabtu (24/8), konsep ‘kabotan jeneng’ dalam masyarakat Jawa yang ditelusuri dari berbagai sudut pandang, baik dari sisi tradisi, maupun psikologi.

Dengan demikian diharapkan bisa mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang fenomena ini dan mengambil sikap yang bijaksana dalam memilih nama untuk anak.

1. Kabotan Jeneng: Ketika Nama Menjadi Beban Menurut Primbon Jawa

Kepercayaan tentang ‘kabotan jeneng’ bukanlah hal baru. Sejak zaman dahulu, masyarakat Jawa telah meyakini bahwa nama memiliki makna dan kekuatan yang bisa memengaruhi kehidupan seseorang.

Dalam konteks ini Kabotan jeneng, kepercayaan masyarakat Jawa sejak zaman dahulu adalah kondisi di mana seseorang dianggap tidak mampu ‘menyandang’ namanya. Nama yang terlalu muluk atau tidak selaras dengan aura pemiliknya diyakini bisa membawa kesialan, masalah kesehatan, dan ketidakbahagiaan.

Nama yang memiliki makna yang terlalu tinggi dianggap bisa menjadi beban bagi si pemilik nama. Misalnya, seorang anak bernama Indah Suprapti Basuke, yang artinya cantik, sehat, selamat, dan beruntung, justru sering sakit-sakitan. Setelah namanya diganti menjadi Iin Suprapti, ia tidak pernah sakit lagi.

2. Kekuatan Pikiran: Prespektif Psikologis tentang Kabotan Jeneng

Selain perdebatan antara tradisi dan kepercayaam leluhur, ada juga aspek psikologis dalam fenomena 'kabotan jeneng'. Ketakutan atau kecemasan saat nama asli disebut sebelum ritual 'ruwatan' (upacara Jawa untuk melepaskan dari kesialan) dapat dijelaskan melalui teori psikoanalisis Freud tentang superego.

Dikutip dari laman Simplypsychology.org, teori Freud membagi kepribadian menjadi tiga aspek: id (naluri primitif), ego (penyeimbang antara id dan realitas), dan superego (internalisasi nilai moral). Superego, bagian dari struktur kepribadian manusia menurut teori Sigmund Freud, berperan sebagai ‘hati nurani’ yang menyimpan sistem kepercayaan dan nilai-nilai moral.

Keyakinan mistis, seperti pada kasus ‘kabotan jeneng’, dapat tertanam dalam superego. Ketika keyakinan ini terusik, misalnya dengan menyebut nama yang dianggap tabu, dapat memicu kecemasan dan pikiran irasional.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore