
Ilustrasi anak muda pendukung Prabowo-Gibran.
JawaPos.com–Apa yang membuat suara Prabowo-Gibran begitu tinggi? Sebaliknya mengapa suara kompetitornya begitu jatuh pada hari pemilihan?
Pengamat Strategi Manajemen Abdullah Sammy menilai, salah satu terobosan yang dilakukan Prabowo-Gibran adalah membentuk divisi Fanta yang menjadi klaster TKN pemilih muda. TKN Fanta atau TKN Pemilih Muda itu menjadi sentral dalam setiap agenda dan kegiatan 02. Utamanya dalam sosialisasi ke kalangan anak muda.
”Selain dipimpin sosok milenial, Muhammad Arief Rosyid, seluruh anggota TKN Fanta ini berusia di rentang 17 hingga 30-an tahun,” terang Abdullah Sammy.
Menurut dia, hal itu menjadi kunci kedua di balik kemenangan meyakinkan pasangan 02. Sebab desain yang baik, brand yang kuat, dan produk yang unik tidak cukup tanpa marketing yang baik.
”Harus diakui TKN Pemilih Muda Prabowo-Gibran atau TKN Fanta menjalankan fungsi marketing Prabowo-Gibran yang sangat baik,” tutur Abdullah Sammy.
TKN Pemilih Muda Prabowo Gibran lanjut dia, secara maksimal menggunakan media digital sebagai sarana untuk menyebarkan ide maupun kegiatan pasangan 02 yang umumnya bersifat budaya pop. TKN Pemilih Muda memasarkan politik yang heboh, seru, dan asyik bagi anak muda.
”Spontanitas dan keunikan Prabowo dan Gibran dalam debat langsung dipasarkan TKN Muda sebagai sebuah tren baru,” papar Abdullah Sammy.
”Inilah salah satu kunci yang menciptakan tren di kalangan anak muda. Muncullah tren joget gemoy, narasi sorry ye, hingga Omon-Omon. Pendekatan politik yang heboh, seru, dan asyik akhirnya menciptakan FOMO alias fear of missing out di kalangan anak muda,” ujar dia.
”Anak muda merasakan 02 sebagai bagian dari tren. Para pemilih muda pun tak mau ketinggalan bagian dari tren Gemoy atau Ok Gas yang sukses disosialisasikan TKN Muda,” tambah dia.
Di sisi sebaliknya, lanjut Abdullah Sammy, paslon lain memilih kemasan yang lebih serius dengan format diskusi, baik online maupun offline. Itu seperti dalam metode kampanye Anies Baswedan yang sejatinya sejak awal punya brand sebagai akademisi atau intelektual.
Sebaliknya Ganjar Pranowo mencoba memperkuat brand yang merakyat. Brand yang sejatinya sudah sangat kuat melekat di diri Presiden Jokowi. Kesalahan Ganjar menurut dia, soal konsistensi dalam mencitrakan brand. Tidak jelas mana sasaran utamanya apakah brand muda atau merakyat yang dituju.
”Jadi jangan pernah menyepelekan budaya populer. Tidak relevan lagi budaya tinggi atau budaya rendah, yang penting adalah seni yang baik atau tidak,” ucap Abdullah Sammy.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
