
Pasukan berbaris pada HUT TNI Ke-74 di Lanud Halim, Jakarta, Sabtu (5/10). Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com
JawaPos.com - Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa mengeluarkan kebijakan membolehkan anak keturunan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) bisa mengikuti seleksi calon prajurit TNI. Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi mengatakan, memang sudah seharusnya negara mengedapankan prinsip-prinsip kesetaraan hak asasi manusia (HAM). Dia mendukung kebijakan baru Jenderal Andika Perkasa.
"Memang sejak reformasi kan concern kita soal HAM, meski negara ini punya keputusan politik tentang PKI. Tapi, tidak boleh diterapkan secara membabi buta," ujar Fahmi kepada JawaPos.com, Sabtu (2/4).
Fahmi mengajak masyarakat tidak perlu khawatir dengan diperbolehkannya keturunan PKI mendaftar TNI. Seperti ketakutan akan muncul lagi paham komunisme di Indonesia. Menurut Fahmi, TNI punya sistem pendidikan doktrinisasi yang hebat terkait sumpah setia dan cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta idelogi Pancasila.
"Jadi kita jangan meragukan TNI, karena pendidikan TNI tidak main-main. Karena pendidikan TNI mampu melakukan doktrinasi cinta ke Indonesia. Sehingga siapapun latar belakang apapun, prajurit akan tunduk kepada Sapta Marga dan Sumpah Prajurit," katanya.
Karena itu, Fahmi meminta agar semua Kementerian dan lembaga bisa menerapkan kebijakan seperti yang dilakukan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa. Sebab sangat tidak adil masih adanya diskriminasi terhadap keturunan PKI. Sebab sebagai warga negara Indonesia (WNI) berhak mendapatkan kesetaraan yang sama.
"Memang kita harapkan apa yang dilakukan TNI bisa berdampak positif dan menular ke lembaga lain. Ini bukan berarti kita mengurangi kewaspadaan, tapi nanti perangkat pengawasannya ditingkatkan, sehingga saat berkecimpung di lembaga tidak terpengaruh ajaran atau paham yang sudah dinyatakan dilarang," tuturnya.
Selain itu, Fahmi juga mendukung langkah Jenderal Andika Perkasa menghapus persyaratan mengenai tes bahasa asing. Hal ini karena kemampuan tersebut bisa dilatih pada saat prajurit TNI tersebut lolos tes.
"Syarat kemampuan berbahasa asing, memang itu tidak perlu dilakukan, karena ketika pendidikan juga mampu dididik untuk mampu bisa berenang dan kemudian bahasa asing," ungkapnya.
Menurut Fahmi sangat tidak fair, jika calon anggota TNI sudah lolos di banyak tes dan memiliki kompetensi yang baik. Namun, gagal lolos hanya karena tidak bisa berbahasa asing. "Jadi kurang fair, misalnya calon prajurit punya banyak kompetensi, tapi hanya karena tidak bisa bahasa Inggris kemudian enggak lolos," tuturnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
