Warga Palestina yang tinggal di wilayah Israel / sumber: Al Jazeera.
JawaPos.com – Akibat serangan Hamas pada (7/10) lalu, banyak warga Palestina yang tinggal di wilayah Israel mendapatkan diskriminasi dan penolakan.
Salah satunya adalah Noura (bukan nama asli) yang mengaku diskors dari pekerjaannya sebagai tenaga kesehatan di rumah sakit Israel karena dinilai berpihak pada kelompok Hamas.
Gara-gara aduan rekan kerjanya yang mengungkapkan pembahasan mereka tentang serangan Hamas kepada pihak manajemen rumah sakit, Noura yang telah bekerja selama lebih dari dua tahun diskors dari pekerjaannya dan tidak diberitahu lebih lanjut kapan ia bisa kembali bekerja.
“Yang paling menghina saya adalah ketika mereka memanggil saya untuk rapat, mereka sudah mind set, keputusan sudah diambil. Mereka tidak mau mendengarkan,” kata Noura tentang sidang pemutusan kerjanya yang diperkirakan akan segera dilaksanakan.
Noura merupakan salah satu dari 1,2 juta warga Palestina yang menetap di Israel, sekitar 20% populasi dari negara tersebut. Namun ini bukan kasus satu-satunya. Diskriminasi rupanya sering diterima oleh warga Palestina yang menetap di Israel.
Pengacara dan anggota komunitas hak asasi manusia di Israel telah menerima banyak pengaduan baik dari pekerja atau pelajar yang sejak Sabtu (7/10) lalu tiba-tiba diskors dari sekolah, universitas, dan tempat kerja karena postingan mereka di media sosial atau percakapan dengan rekan kerja.
Dilansir dari Al Jazeera, direktur Pusat Hukum untuk Hak-hak Minoritas Arab di Israel, Hassan Jabareen mengungkapkan bahwa banyak karyawan yang telah bekerja selama tiga hingga lima tahun mendapat penangguhan dilarang masuk kerja karena apa yang mereka publikasikan di media sosial.
Selain itu, Hassan Jabareen juga menerima sekitar 40 pengaduan dari mahasiswa Palestina di universitas dan perguruan tinggi Israel yang telah menerima surat pengusiran atau skorsing dari institusi mereka.
Pemutusan kontrak kerja atau hak belajar secara sepihak ini semuanya didasari atas dugaan ‘mendukung gerakan teroris’ atau ‘penghasutan untuk melakukan terorisme’ terhadap korban skorsing.
Sementara, salah satu pengacara hak asasi manusia mengatakan bahwa tuduhan tersebut merupakan hal serius yang perlu dibuktikan di pengadilan. Sehingga menurutnya itu tidaklah sah menjadi alasan seseorang menerima surat skorsing.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
Soal Penolakan Pembangunan Gereja di Citraland, Wali Kota Eri: Tidak Sesuai Site Plan
Prediksi Skor Singapura vs Thailand: Ilhan Fandi Jadi Ancaman, Tuan Rumah Bisa Bikin Kejutan
Persebaya Surabaya Siapkan Penyerang Pengganti Alex Martins di Super League
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Sabah FC vs Persib Bandung: Pangeran Biru Bidik Puncak Dewata Challenge Series 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Kasus Penjahit Rasis Bali Kembali Diperbincangkan, Diduga Ada Intimidasi Saat Audiensi
